sound track of JMB

Jumat, 17 Juli 2009

Mau Bebas dari Rokok? Jangan Berusaha Berhenti!


oleh : Reza Gunawan
sumber : www.rezagunawan.com

Merokok adalah suatu kegiatan yang begitu susah dilepaskan oleh para perokok, meskipun kita semua sudah kenyang mendengar propaganda bahaya merokok bagi kesehatan. Saya pribadi tidak berpendapat bahwa merokok itu baik bagi kesehatan. Hanya saja, dalam pengamatan saya dari pengalaman terapi, berbagai upaya yang umum dilakukan untuk berhenti dari kebiasaan merokok seringkali kurang efektif. Dan lebih aneh lagi, berbagai upaya berhenti merokok justru seringkali membuahkan hasil yang sebaliknya, yakni malah memperkuat kebiasaan merokok tersebut.

Kali ini, saya mengundang Anda untuk memahami kembali psikologi dan mekanisme kebiasaan merokok dan sekaligus menawarkan sudut pandang berbeda. Kalau boleh memberikan kesimpulan akhir di awal perenungan kita, kira-kira bunyinya begini:

“Jika Anda ingin bebas dari kebiasaan merokok, lepaskanlah semua keinginan, upaya, dan fokus untuk berhenti secara permanen dari merokok.”
Pendekatan Umum untuk Berhenti Merokok

* Niat dan tekad yang kuat Secara statistik, hanya 2% perokok yang berhasil menggunakan metode ini. Saya tertarik untuk mencari metode yang bisa menolong 98% perokok yang tidak berhasil berhenti karena tidak cocok dengan metode niat/tekad ini.

* Terapi Pengganti Nikotin Meskipun ada sebagian orang yang berhasil lepas dari kegiatan merokok akibat stiker maupun jenis nikotin pengganti lainnya, saya tidak pernah habis pikir: apabila kita sudah bebas dari adiksi terhadap nikotin berbentuk rokok, apakah kita layak menganggap diri bebas dari adiksi nikotin, kalau masih menggunakan bentuk nikotin yang lain?

* Hipnoterapi Sebagai seorang hipnoterapis, saya tidak berhasil menemukan kesesuaian maupun tingkat keberhasilan yang baik dari metode ini. Saya menemukan bahwa selama klien masih punya KEINGINAN KUAT untuk BERHENTI merokok, sugesti hipnotis yang diberikan biasanya hanya bisa membantu untuk jangka pendek dan tidak mampu memberikan support dan manfaat jangka panjang. Lebih lagi, mengingat batin bawah sadar adalah aspek dalam diri yang sangat kuat, sebenarnya tidaklah aman ketika sebagian teknik hipnoterapi melakukan penggunaan sugesti negatif. Penggunaan kalimat sugesti hipnotis, baik yang diberikan saat trance maupun dalam percakapan biasa, yang berkonotasi “takutlah dengan akibat dari kebiasaan merokok” justru mengandung risiko bahwa tubuh akan memproduksi apa pun yang kita takutkan tersebut menjadi kenyataan. Tanpa bermaksud menyinggung siapapun, saya ingin menyampaikan pengamatan bahwa terkadang para praktisi hipnoterapi pun bisa lupa bahwa perumusan sugesti hipnotis bisa dibuat sedemikian kuat hingga justru membahayakan klien.

* Akupunktur Sebagai seorang akupunkturis, saya tidak menemukan juga efektivitas yang tinggi melalui metode ini. Barangkali karena banyak akupunkturis yang terlalu fokus pada aspek detoksifikasi tubuh atas nikotin, tetapi kurang mengarahkan terapi pada aspek psikologis pasien yang sebenarnya merupakan gudang pemicu perilaku merokok.

* Makan Melarikan dari kebiasaan merokok ke kebiasaan konsumsi baru (seperti makan atau mengunyah permen karet) kurang tepat jika disebut sebagai penyembuhan karena lebih bersifat pelarian. Tidak jarang pula pelarian ini merupakan objek adiksi baru yang belum tentu juga sehat.

Mungkinkah ada pendekatan yang lebih natural dan lebih mudah? Ada yang bilang, bahwa upaya untuk berhenti merokok biasanya harus dilakukan antara 3-6 kali hingga mencapai keberhasilan. Benarkah?
Mengapa Jangan Berusaha Berhenti Merokok?

Dari sudut pandang medis, Dr. Joseph Mercola, seorang dokter yang sangat mempopulerkan merawat kesehatan secara alami, justru menganjurkan agar seorang perokok jangan LANGSUNG BERHENTI merokok. Alasannya? Dalam rokok tersimpan berbagai zat yang bersifat obat, yang bilamana sudah dikonsumsi sekian lama maka tingkat metabolisme tubuh juga bergantung pada pasokan obat tersebut. Bila rokok tiba-tiba dihentikan tanpa merawat kebutuhan nutrisi yang cukup dan gaya hidup yang sehat, maka bisa terjadi perubahan drastis metabolisme tubuh yang bisa saja mengakibatkan efek buruk yang tidak diinginkan (salah satunya peningkatan berat badan).

Sementara menurut sudut pandang saya sendiri, begitu seseorang berkeinginan untuk berhenti merokok secara PERMANEN, dia otomatis masuk ke dalam kerangka berpikir “Berhasil/Gagal”: apakah saya bisa berhenti merokok selama-lamanya, ataukah saya akan gagal dan kembali merokok seperti yang sudah terjadi sebelumnya?

Masuk ke dalam kerangka berpikir “Berhasil/Gagal” ini justru akan membuat kita memaksakan diri untuk berhasil. Setiap pemaksaan diri, meskipun untuk tujuan yang baik, akan menyebabkan STRES TAMBAHAN di bawah sadar. Mengingat sebagian perokok menggunakan kebiasaan merokok untuk melegakan diri, menciptakan rasa nyaman, atau melepaskan stres, maka STRES TAMBAHAN ini justru meningkatkan peluang perilaku merokok untuk terulang kembali.
Siklus “Merokok Yo-Yo”

Pada fenomena diet berambisi langsing, fenomena menarik ini juga terjadi. Dalam jangka pendek, bisa saja tekad dan fokus kita untuk berbadan ideal terlaksana. Namun, begitu target tercapai, ada energi kompensasi yang mendorong kita untuk makan dan mengumpulkan kembali berat badan yang hilang. Ini yang disebut “diet yo-yo”. Dan kita bisa menggunakan metafora yang sama dengan “merokok yo-yo”.

Siklusnya seperti ini:
Takut risiko merokok → Ingin berhasil berhenti merokok → Mengumpulkan tekad sekuatnya untuk memaksakan diri berhenti secara permanen → Berhasil mengurangi/berhenti merokok dalam jangka pendek → Muncul pemicu perilaku merokok (mis. stres) → Timbul keinginan merokok lagi, tapi sudah bertekad berhenti → Terjadi konflik batin antara ingin merokok supaya lega dan ingin berhenti merokok secara permanen → Konflik batin semakin kuat, stres semakin tinggi → Ketika stres sudah melalui ambang toleransi, kemampuan berpikir jernih hilang dan akhirnya kita kembali ke pola/kebiasaan lama dalam mengatasi stres → Mulai merokok lagi → Menguatnya memori bahwa merokok itu melepaskan stres → Kecewa dan MERASA GAGAL karena tidak berhasil berhenti secara permanen → Semakin takut tidak bisa lepas dari rokok → Siklus ini berulang lagi, dst.

Siklus tersebut begitu kuat dan mengikat sehingga kita perlu memahami bahwa untuk bebas dari rokok, kita tidak boleh masuk ke dalam kerangka berpikir “Berhasil/Gagal”. Bagaimana caranya? JANGANLAH BERUSAHA BERHENTI MEROKOK.

Ya betul, saya tidak bergurau. Semakin Anda berusaha berhenti, justru seringkali hasil sebaliknya yang Anda peroleh. Bahkan sebenarnya berhenti merokok itu begitu mudah dan bisa dicapai tanpa berupaya berhenti, kalau Anda sudah melepaskan keinginan untuk berhenti.

Berhenti merokok akan sangatlah sulit bagi para perokok yang sangat ingin berhenti.
Memahami Jerat Rokok Dengan Jeli

Untuk bisa bersahabat dan terbebas dari adiksi, kita perlu memahaminya dengan lebih dekat dan jernih. Banyak orang berkonsep bahwa melepaskan benda kecil sekian sentimeter itu sebenarnya perkara mudah. Saya bukannya tidak setuju, tapi kita perlu juga membarengi dengan pengetahuan bahwa sebenarnya jerat kebiasaan merokok itu terdiri dari ribuan simpul rumit yang mengikat sistem tubuh dan batin kita.

Kalau seluruh simpul ini, baik simpul ketergantungan secara fisik maupun ketergantungan secara psikologis, sudah menjadi jerat kompleks dalam tubuh maupun batin kita, tidaklah sulit memahami mengapa segala upaya untuk terbebas dari rokok bisa menjadi perjuangan yang diwarnai jatuh bangun bagi banyak orang.

Di satu sisi, secara fisik memang sebatang rokok mengandung zat-zat yang menyebabkan keterikatan (adiksi) secara fisik. Artinya, bilamana dihentikan, maka tubuh akan merasakan kehilangan dan menuntut untuk diberikan kembali jatahnya. Memang tuntutan tubuh untuk kembali diisi nikotin tidak terasa seekstrem fenomena “sakaw” pada pengguna obat-obatan terlarang, tapi justru karena permintaan tersebut tidak terlalu ekstrem, para perokok cenderung merasa “tidak terpenjara” oleh nikotin dan menganggap bahwa dirinya tidak kecanduan. Dari sudut pandang tersebut, rokok sebenarnya menjerat lebih kuat daripada narkoba, karena zat dalam rokok mengikat tanpa membuat kita sadar bahwa diri kita terikat.

Di lain sisi, bisa ada puluhan bahkan ribuan jerat rokok yang tidak bersifat ketergantungan fisik melainkan lebih bersifat jerat psikologis yang mengikat kita terhadap “kegiatan” merokok, bukan melulu pada rokoknya. Jerat psikologis tersebut bisa berupa memori serta kebiasaan, misalnya:

* Berbagai memori tentang rasa lega dan nyaman ketika merokok.
* Ingatan tentang bagaimana merokok melepaskan stres.
* Ingatan tentang bagaimana rokok adalah sahabat terbaik dalam kesendirian.
* Ingatan menyenangkan berkumpul dengan teman-teman sambil merokok.
* Keyakinan bahwa merokok membuat seseorang lebih kreatif.
* Keyakinan bahwa merokok membuat proses berpikir dan produktivitas lebih lancar.
* Kebiasaan nikmatnya merokok setelah makan, atau setelah bercinta.

Dari berbagai pengalaman dan pengamatan saya, tidak hanya pada kasus merokok, obat terkuat yang paling ampuh untuk menyembuhkan jerat memori dan kebiasaan hanyalah satu. Dan itu bukanlah membentuk memori atau kebiasaan baru yang lebih positif. Tahukan Anda apa kuncinya?

Obatnya adalah PERHATIAN yang sadar dan jernih.
Jerat Yang Lepas Sendiri Tanpa Usaha Sengaja

Setelah sempat mengeksplorasi berbagai cara untuk berhenti merokok yang sudah saya sebutkan sebelumnya, dan pada saat yang sama mengajarkan keterampilan Self Healing di berbagai pelatihan, saya menemukan fenomena yang aneh.

Saya menemukan beberapa peserta Self Healing yang, setelah mulai berlatih keterampilannya secara mandiri dan hidup lebih sehat, tiba-tiba berhenti sendiri merokok. Anehnya, mereka tidak pernah melakukan upaya yang terfokus khusus untuk bebas dari merokok.

Sebenarnya, fenomena ini juga bisa terjadi pada mereka yang belum belajar keterampilan Self Healing. Pernahkah Anda mendengar cerita-cerita bebas dari rokok seperti:

* Suatu hari, si perokok tiba-tiba merasa “ah, saya tidak ingin merokok lagi”, dan sejak itu mereka berhenti merokok.
* Seseorang yang memulai kebiasaan jogging pagi dan setelah sekian lama ia baru menyadari bahwa sudah lama sekali ia tidak merokok sebatang pun.

Setelah saya renungi dan amati lebih lanjut, ternyata ada sebuah jalan lain yang sebenarnya mampu membebaskan kita dari rokok. Namun, karena tidak pernah kita soroti dengan jeli, mereka yang berhasil melalui jalan itu kita anggap sebagai sebuah kebetulan belaka, atau kita anggap berhasil karena tekadnya kuat.

Jalan itu bernama “Tanpa sengaja, tiba-tiba terbebas dari rokok”.
Mengapa ini bisa terjadi?
Pengamatan dari Mereka yang Berlatih Self Healing

Pada awal mulai berlatih keselarasan lahir batin, segala pemicu yang membuat ingin merokok ternetralisir oleh latihan mereka sendiri seperti:

* Rasa tegang yang tadinya hanya bisa dicairkan dengan merokok mulai berkurang karena sering berlatih relaksasi dan pernapasan.
* Stres dan masalah yang biasanya membuat ingin merokok mulai bisa dilepaskan secara alami tanpa bantuan rokok.
* Trauma/luka batin yang menjadi bagian dari adiksi dan biasanya harus dilarikan dengan merokok mulai bisa disembuhkan sendiri, sehingga tidak lagi ada alasan untuk pelarian dan lebih bisa menghadapi hidup dengan jernih.

Setelah sekian lama berlatih, mereka juga mulai mengalami detoksifikasi alami tubuh/ pikiran, sehingga segala sisa zat yang bersifat adiktif maupun berbagai memori dan kebiasaan seputar merokok mulai melemah dengan sendirinya. Tanpa berusaha berhenti.

Akhirnya, ketika sudah semakin terampil Self Healing, kita semakin peka akan kebutuhan tubuh dan mulai lebih bisa merasakan respon tubuh terhadap berbagai kegiatan serta zat yang kita masukkan ke dalamnya. Suatu saat, tanpa disengaja, secara naluriah kita mulai ingin makanan yang lebih sehat dan lidah mulai kehilangan selera terhadap zat yang kurang membahagiakan tubuh kita. Pada saat itulah si perokok seringkali tiba-tiba tidak bisa meneruskan kenikmatan merokok dan akhirnya terbebas sendiri, sekali lagi, tanpa sengaja. Tanpa usaha.
Latihan Memperkuat Perhatian Merokok

Seperti disebutkan sebelumnya, obat terampuh dari berbagai memori dan kebiasaan yang menjerat adalah PERHATIAN yang sadar dan jernih. Jadi, setelah melepaskan berbagai upaya dan ambisi untuk berhenti merokok, Anda bisa mencoba latihan-latihan berikut ini.

Catatan: latihan ini tidak dirancang untuk berhenti merokok, melainkan untuk memperkuat perhatian yang sadar dan jernih tentang kegiatan merokok. Jika dilakukan tanpa niat untuk berhenti merokok, latihan-latihan seputar merokok ini bisa bermanfaat untuk membantu kita mengenal diri, mengasah kesadaran dan perhatian tentang merokok, serta membantu kita lebih sehat lahir batin—tanpa harus berhenti merokok.

Latihan #1 - Menunda:
Latihan ini saya sajikan setelah terinspirasi Pak Purnawan EA, seorang hipnoterapis yang sangat arif. Beliau mengatakan, kalau kita sudah telanjur merekam nikmatnya merokok maka berusaha berhenti permanen dari merokok sangatlah sulit. Adakah cara yang lebih mudah ketimbang berusaha berhenti? Cobalah MENUNDA DENGAN SADAR DAN SENGAJA. Selama ini para perokok sudah berhasil melakukan latihan menunda, meskipun tidak secara sadar dan sengaja. Para perokok mampu menunda merokok ketika sedang sibuk, atau berada di zona non-merokok, saat tidur malam hari, saat berpuasa, dll.

Ketika dorongan ingin merokok muncul, Anda bisa memutuskan untuk menunda merokok selama 1 jam, 1 hari, 1 minggu, 10 tahun, bahkan seumur hidup. Ini akan lebih mudah dijalani karena menunda bukanlah suatu kemustahilan. Sementara berhenti permanen, yang mewakili hilang totalnya sumber kenikmatan yang telanjur terekam kuat, membuat kita semakin stres dan malah ingin merokok kalau sudah tidak tahan.

Ingat, tidak ada yang permanen dalam hidup ini. Latihan menunda membuka peluang bagi kita untuk memilih antara kapan mau merokok dan kapan tidak merokok. Setelah masa tunda berakhir, silakan pilih: apakah mau menunda lebih jauh, atau menikmati rokok seperti biasa? Latihan menunda juga tidak membuat kita terjebak dalam kerangka pikir “Berhasil/Gagal Berhenti Permanen”, kan?

Latihan #2 - Bernapas Tanpa Rokok:
Mungkin analogi berikut akan membantu: seandainya kita sedang gatal dan kemudian kita menggaruk gatal tersebut dengan satu tangan sementara satu tangan lagi sedang merokok, bisa saja kita menarik kesimpulan yang tidak tepat, yakni: merokok bermanfaat menghilangkan gatal. Tentu kesimpulan itu tidak benar. Namun, mereka yang perhatiannya tidak jernih belum tentu bisa membedakan apa yang sebenarnya menghilangkan gatal tersebut.

Dari contoh tersebut, cobalah tengok lagi semua kesimpulan kita bahwa merokok itu melegakan, nikmat, meringankan stres dan beban pikiran. Mungkinkah bahwa sebenarnya manfaat tersebut bukanlah bersumber dari produk rokok itu sendiri, melainkan dari kegiatan kita yang berhenti sejenak untuk rileks, dan menikmati keluar masuknya napas?

Cobalah sendiri: hentikan sejenak kegiatan Anda, sekadar berniat untuk rileks dari ketergesaan dan kesibukan, lalu mulai bernapas dengan sadar dan sengaja. Hirup napas dengan sangat lembut, rasakan ke dalam diri, lalu embuskan dengan perlahan dan lega. Setelah melakukan ini beberapa menit, tidakkah Anda merasa lebih nyaman? Inilah rahasia mengapa rokok itu bisa kita nikmati. Bukan karena rokoknya, melainkan karena kita bernapas secara sadar dan sengaja.

Ketika kita rutin melatih napas yang dilakukan secara sadar dan sengaja, pada saat itulah kita mulai membentuk pengalaman langsung bahwa napas merupakan kunci kenikmatan dan kelegaan. Pengalaman baru itu akan membentuk memori baru yang otomatis akan melonggarkan memori lama yang menganggap bahwa kenikmatan yang kita dapatkan berasal dari produk rokok.

Latihan #3 - Merokok dengan Perhatian 100%:
Latihan ini terinspirasi dari renungan Osho. Prinsipnya sederhana, gunakan kegiatan merokok sebagai latihan meditasi. Tahu bagaimana orang Jepang melakukan upacara minum teh? Mereka menghayati proses minum teh, seolah-olah terdiri dari 1000 tahap, dan benar-benar melakukan tahap demi tahapnya dengan perhatian 100%.

Anda juga bisa melakukan ‘upacara merokok’ dengan perhatian 100%. Mulai dari merasakan dorongan ingin merokok, sadari bahwa Anda pindah ke ruangan di mana Anda seolah akan ‘menyembah Dewa Rokok’, mengambil sebatang rokok, menyalakannya, mendekatkannya ke mulut Anda, menghirupnya dengan nikmat, merasakan asapnya di dalam tubuh Anda, lalu mengembuskannya dengan lega. Setiap bagian kecil dari kegiatan merokok perlu dihayati dan dirasakan dengan perhatian 100%. Artinya tidak boleh sambil ngobrol, melamun, kerja, nonton, atau melakukan kegiatan lain secara berbarengan. Hayati dengan perhatian penuh tanpa sebersit pun niat untuk berhenti merokok. Nikmati sepenuh hati.

Apakah Anda harus melakukan upacara itu di setiap batang rokok? Tidak. Cukup TIGA batang dari berapa pun batang rokok yang Anda konsumsi tiap hari. Nikmatilah tiga batang itu dengan perhatian dan penghayatan total. Selebihnya, silakan merokok seperti biasa.
Resep Bebas dari Rokok Tanpa Berusaha Berhenti

Dari semua perenungan di atas, berikut adalah resep intinya:

* Jangan berusaha untuk berhenti, dan lepaskan keinginan untuk berhenti permanen.

* Mulailah meningkatkan kualitas kesehatan fisik: asupan nutrisi yang baik, mulai berolahraga, dan memberikan kesempatan beristirahat yang cukup.

* Melatih seni rileks, lega, dan selaras, melalui belajar keterampilan Self Healing. (silakan baca informasi lengkapnya disini)

* Melatih 3 Latihan Memperkuat Perhatian Merokok yang telah dijelaskan di atas.

Lebih penting lagi, saya juga menganjurkan kita untuk tidak mendesak, mendorong, apalagi memaksa orang lain untuk berhenti merokok, karena anjuran tersebut bisa menyebabkan orang tersebut semakin merasa tidak diterima atau dicintai dan akhirnya menimbulkan stres yang menyebabkan dia semakin ingin merokok.

Kalau Anda tidak ingin menghirup udara yang bercampur asap rokok, menyingkirlah, atau buat kesepakatan dengan para perokok untuk sama-sama menjaga kebersihan udara yang ingin dinikmati para non-perokok. Itu lebih baik, bijak, dan adil, daripada menuntut orang lain untuk berhenti dari sebuah kebiasaan yang jeratnya kadang begitu erat.

Selamat menghirup udara segar!

Jumat, 03 Juli 2009

Andreas Hadter Jalan Kaki Melintasi Lima Negara Dalam 10 Tahun

sumber : www.kpk2007.wordpress.com



Bapak tiga anak itu berjalan kaki sejauh 2.227 kilometer, kira-kira setara dengan berjalan lurus bolak-balik dari ujung barat ke ujung timur Pulau Jawa. Dia melintasi lima negara, dari Jerman, Tjesna, Austria, San Marino dan berakhir di Italia, selama 10 tahun.Oleh Sri Pudyastuti, Jerman, via Koran Tempo

Mengapa Andreas Hadter, 53 tahun, bersusah payah melakukannya? “Saya kan juga perlu cuti dari urusan keluarga,” katanya bergurau. Tapi, dia tak bergurau ketika menerbitkan catatan pengalamannya berjalan kaki itu dalam sebuah buku bertajuk Spaziergang nach Rom (Jalan Kaki ke Roma).

Perjalanan itu berawal dari hobi Andreas dan sepupunya, Michael, berjalan kaki di Vechelde, sebuah kecamatan yang terletak sekitar 45 menit berkendaraan dari Hannover, Jerman. Mereka biasanya berjalan 40-50 kilometer yang ditempuh dalam sehari.Lalu, mereka mencari tantangan baru dan sebuah kenyamanan dengan memilih untuk melancong ke Roma. Alasannya, “Karena utara (Jerman) lebih dingin, sedangkan Italia ada di selatan lebih hangat,” kata Andreas.

Akan halnya Michael, teman bermain Andreas sejak kanak-kanak, punya alasan sendiri. Ide itu disetujuinya karena ia perlu curhat soal masalah pribadi, yang tak bakal bisa berkesinambungan dibicarakan kalau tidak sedang berduaan seperti jalan kaki itu.

Untuk perjalanan panjang ini, mereka masing-masing harus memanggul ransel seberat 10 kilogram. Ransel itu berisi pakaian dan peralatan kemah serta puluhan peta. “Peta itu bekal terpenting. Paling susah kalau masuk wilayah negara lain, karena garis di satu peta berbeda dengan lainnya. Itulah kenapa kami perlu peta dari berbagai versi,” kata Andreas.

Untungnya Eropa punya peta khusus rute pejalan kaki, jadi lebih gampang memilihnya. Uraian wilayah di peta pejalan kaki tidak sama dengan rute mobil. Maka di tahun 1996 itu, mulailah mereka melewati etape pertama: 35 kilometer menuju Wolfenbuttel, kota kecil setelah Vechelde, ditambah 30 kilometer lagi ke Pegunungan Harz. Etape ini bisa diselesaikan dalam sehari, sehingga mereka bisa pulang ke rumah hari itu juga.

Hari-hari berikutnya mereka berjalan lebih jauh lagi. Kadang etape-etape selanjutnya makan waktu 3-4 hari. Itu artinya mereka mesti menginap di hotel, lalu pulang dengan kereta api, sebelum merancang waktu lagi untuk menempuh etape selanjutnya. Dalam perjalanan itu Andreas banyak mengalami peristiwa-peristiwa lucu. Ia, misalnya, baru tahu bahwa sepupunya tak pernah mau memakai baju bekas pakai di hari sebelumnya. Michael juga selalu buru-buru ganti baju jika tubuhnya terkena hujan, meski cuma rintik-rintik. “Sepertinya dia ketakutan bakalan sakit karena badannya basah,” kata Andreas.

Alhasil, semua baju bekas pakai itu dibuang atau dipaketkan ke rumahnya. Memang ransel jadi lebih enteng, tapi jadi masalah ketika baju tinggal sepotong, sementara jarak yang ditempuh masih puluhan kilometer lagi dan tidak ada toko baju di sekitarnya.

Salah satu medan berat yang harus mereka tempuh adalah ketika mereka melintasi pegunungan Alpen selama setengah bulan dan menempuh jalan yang ternyata berujung ke daerah sepanjang Laut Mediterania, Po Ebene, yang temperaturnya luar biasa panas, sampai 40 derajat Celcius. Andreas mesti membeli berliter-liter botol air minum di sini. Bayangkan berapa liter air minum yang mesti ditenggak jika daerah ini mesti tiga hari dilewati? Bayangkan juga bagaimana tersiksanya Michael, si anti-baju bekas pakai itu, mesti berhari-hari memakai baju penuh keringat.Mereka juga pernah tersesat berjam-jam dan harus melewati lagi jalan yang sama sebelum menemukan rute yang benar. Sempat pula jalan mereka tersendat-sendat lantaran dengkul Michael bermasalah, yang memaksa mereka beristirahat setiap 10 kilometer. Ketika dengkul Michael bertambah parah, dia terpaksa menumpang bis ke etape berikutnya, meninggalkan Andreas jalan sendirian. “Enak malah. Kalau sendirian malahan bisa jalan puluhan kilometer tanpa istirahat,” ujarnya Andreas.

Tantangan terberat mereka sebenarnya adalah tekad. Setiap tahun mereka harus membulatkan kembali tekad mereka untuk sampai ke Roma dengan melanjutkan etape berikutnya. Tekad itu, untunglah, tidak luntur hingga mereka merampungkan seluruh jalur pada 2006. “Ini memang ide sinting, tapi kami puas begitu menapakkan kaki di Kota Roma,” kata Andreas.

Pengalamannya itu kemudian dituangkan ke dalam buku, yang bahkan sudah mulai Andreas tulis sebelum rute berakhir. “Saya perlu tiga tahun untuk menyelesaikannya,” kata Andreas tentang buku setebal hampir 500 halaman yang ditulis dengan gaya santai dan jenaka itu.

Lantas ia pun mulai menawar-nawarkan bukunya ke beberapa penerbit. Sayang, karena belum punya nama, tak ada penerbit yang tertarik. Terpaksa buku itu diterbitkannya sendiri dengan ongkos produksi 800 euro (hitung sendiri ya :)) untuk 5.000 eksemplar. Pemasaran buku hobi semacam ini memang tak bisa diharap bakal laris seperti halnya novel atau biografi.Andreas mahfum. Maka, ia melakukan banyak hal untuk mempromosikan bukunya. Dia, misalkan, menulis petunjuk singkat tentang olahraga jalan kaki di internet. Ia juga ikut memamerkan bukunya di pameran buku terbesar kedua dunia, Leipzig Book Fair, tahun lalu. Usahanya tak sia-sia. Artikelnya muncul di koran lokal Braunschweiger Zeitung. Bukunya juga diresensi pembaca di Internet.

Toko Buku Graf, toko buku ternama yang amat selektif menjual buku di Jerman, akhirnya bersedia menjual buku Andreas. Selain itu ia diminta membedah bukunya di depan para dokter yang punya minat pada olahraga jalan kaki. Di tengah persaingan ketat penjualan buku di Jerman, dalam tempo setahun peringkat bukunya terdongkrak naik dari nomor 1.000.000 ke nomer 40.000. Terang saja Andreas lega. “Saya belum menikmati royalti, tapi saya puas,” kata wiraswastawan itu.

Tapi, omong-omong, apa sih enaknya jalan kaki sejauh itu? “Sulit digambarkan perasaan saya ketika memandang keindahan lukisan alam sepanjang perjalanan. Tapi, kalau diambil analoginya, mungkin rasanya sama dengan perempuan yang doyan belanja,” kata Andreas.

Namun, perjalanannya belum tamat. Tahun ini dia memulai proyek baru: bersepeda keliling Laut Baltik, sungai besar yang memisahkan lima negara — Island, Lettland, Lituania, Rusia dan Polandia — sepanjang 7 ribu kilometer.

(wah.. menginspirasi pisan, hayu atuh yg muda2, jangan kalah spirit!!!:))

Minggu, 07 Juni 2009

pelarian gunung pelarian: cepen atau monolog?


Tanpa pedulikan kondisi pintu yang sudah rusak dan masih dalam kondisi terkunci, ku dobrak sekuat tenaga dengan bantuan amarah yang tak terbendung menenggelaman diri dalam nafsu yang hampir tak terkendali, pintu terbuka dengan terpaksa hingga kunci gembok pun rampung dibuatku, ku bantingkan kembaIi pintu, namun tak menutup penuh kamar dengan rapat. Beberapa pigura berhiaskan foto-foto perempuan itu ku raih dengan cepat lalu kubantingkan dari genggaman tangan dan membentur ke penjuru tembok kamar memecahkan sunyi menjadi kegaduhan yang membringas, seisi kamar kaget melihat raut wajahku yang setengah berlapiskan iblis yang murka, apalagi cermin tu telah berhasil ku pecahkan dan sisa-sisa pecahannya bersebaran dilantai. Dapat dipastika hampir seluruh isi kamar berhasil kujamah hingga berantakan, kecuali satu buku yang kadang kuanggap kitab itu yang masih tersimpan rapih tanpa lerusik sedikitpun oleh amarahku. .

Segera. Kutengok kiri dan kanan tepatnya kearah pojok lain dari penjuru kamar sambil berharap menemukan beberapa peralatan naik gunung. Tepat, seperangkat peralatan itu masih ada meskipun letaknya berhamburan. Tanpa berfikir panjang seluruh keperluan naik gunung itu ku kemasi dan kumasukkan kedalam tas besar bermerek - yang terkenal dikalangan para pencinta alam. selebihnya tidak, hanya beberapa gengam beras dan beberapa bungkus mie yang mampu kumasukkan sebagai perbekalan naik gunung untuk melarikan kekesalan yang lebih tepatnya disebut kemarahan ini dibekali, tapi dalam kondisi apapun rokok tak pernah ketinggalan dalam deftar perjalananku apalagi naik gunung. Tanpa sedikit pun kekhawatilan tersirat dibenaku, kutinggalkan kamar beserta isinya tanpa kunci mengamankan pintu kamar yang bahkan masih sedikit terbuka, kulangkahkan kaki langkah demi langkah, tentu saja masih dalam balutan amarah dan kegalauan yang menyelimuti hati dan pikiranku iringi perjalanan ini karena memang amarah dan nafsu inilah yang menjadi sumber utama yang mengantarkanku untuk pergi merangkul Gunung Malabar yang menjulang tinggi besar itu

bagaimana tidak!... hati ini seperti serpihan bangunan yang nyaris menjadi debu yang dulu pernah kucita-citakan kokoh bersama dia, wanita yang slalu kubanggakan sebagai kekasihku. dia berkhianat! bahkan baru saja menjalankan aksi pembunuhan yang sebenarnya telah ia rencanakan jauh-jauh hari.

aku tidak tahu pasti apakah memang hari ini peristiwa peristiwa itu harus terjadi atau terlalu cepat karena diluar rencanannya. beberapa jam kebelakang adalah waktu yang kuanggap sangat tepat untuk berkunjung ke tempat kosnya di daerah Jalan Setia Budi, tapi memang hari ini bukan hari biasa aku berkunjung, karena biasannya hari kamis ada;ah hari terpadat bagiku dalam menjalani perkuliahan di kampusku yang terletak di jalan Dipati Ukur, tetapi entah mengapa hari ini secara kebetulan semua dosen dikabarkan tidak akan masuk untuk memberikan kuliah, sehingga aku putuskan untuk pergi ketempat kosnya.

sengaja, waktu itu aku tidak mengabarinya terllebih dahulu perihal kunjungannku ke tempat kosnya, bail ;ewat telepon atau bahkan hanya mengirim sms pun tidak aku lakukan, dengan harapan memberikan kejutan aku berangkat dan membayangkan mendapat kebahagiaan disana. adzan ashar lewat ditelinga, aku tak peduli, kulanjutkan cita-citaku menemuinnya.

sesampainya disana, dasar sembrono! pintu kamar kosnya tidak terkunci, ku gelengkan kepala dan menerobos masuk lebih dalam.. lalu...
bangsat!!!! aaahhhkkhhhh!!!!
aku tak mau mengingat kejadian itu lagi, saat-saat dimaana kuanggap pembunuhan itu tengah berlangsung. tapi aku tidak bisa membohongi hati dan pikiranku sendiri, bahkan perjalanan ini adalah bukti bahwa peristiwa itu begitu melekat dalam benak, hati dan pikiran sehingga menghancurkan hati ku. Ya! tiap langkah perjalanan menuju pendakian gunung ini seolah-olah lembaran dari rentetan perjalanan kisah ku dengan perempuan itu, dari perjuanganku yang tak mudah untuk mendapatkan hatinya sampai peristiwa tadi sore itu terjadi, langkah-langkah ini menggambarkan dengan rinci sederet peristiwa dalam pikiranku.
meskipun dalam kondisi berjalan, pikiranku menerawang jauh mengenang adegan mesra peermpuan setan dengan laki-laki jahanam itu, betapa nikmatnnya! mereka saling bercumbu!... oooohhhhh begitu jelas sekali kulihat lelaki itu melayangkan tangannya menjelajahi beberapa bagian tubuh...
dan ...
akhh,, aku dikejutkan oleh seorang petani yang hendak menanam benih di sepetak perkebunan, aku kaget karena perkakas berkebun patani itu tak sengaja tersenggol kaki ku saat berjalan, sejenak peristiwa pengkhianatan itu terlupakan, dan tersadar bahwa saat ini aku tengah berjalan dan berada diperkampungan kaki Gunung malabar, pandangan mata ku tertuju pada kemegahan puncak gunung yang bemberikan nuansa alam begitu indah - memberikan sedikit ketenangan pada jiwa, apalagi senja ini tiba diantarkan mentari yang tenggelam melewati awan merah menyimpan pesan dan membawa kabar untuk esok.

di depan, jalan terjal sudah menanti, terlihat beberapa rumah berderet diantara tebing dan sungai yang dialiri air dari gunung, tepat diatas tempat tinggal prnduduk itu, gerak-geril dari mesin pengeruk tanah dan beberapa truk pembawa pasir merah masih melakukan aktifitasnya, padahal hari sudah hamper gelap, begitupun dengan aku yang tidak berhenti melakukan perjalanan untuk mencapai puncak gunung tinggi itu.

kulanjutkan perjalanan... setelah melewati beberapa tanjakan yang terjal, kini hutan hampir selesai kulewati, sambil beristieahat sejenak kurapihkan ransel yang melekat di punggungku, tiba-tiba kudengar langkah kaki yang kedengarannya seperti orang berjalan agak terburu-buru, sepertinya dari atas tempatku beristirahat, aku terperanjat kaget. rupannya wanita setengah baya yang berjalan terburu-buru itu, dipunggungnya terlihat ikatan kain membalut kayu-kayu kering yang jumlahnya cukup banyak, berat ransel yang ku baawa sepertinynya tidak ada apa-apannya dibanding kayu-kayu yang ia bawa, ditengah ketersimaan, aku bertanya, sebuah pertannyaan yang mungkin sebetulnnya aku tahu jawabanya.
"dari mana Bu?, kenapa Ibu terburu-buru?
benar-benar telah kulupakan peristiwa itu.
"habis memungut kayu kering untuk bahan bakar didapur, sebentar lagi sepertinya akan turun hujan Den (panggilnya padaku), selain itu sudah gelap, makanya ibu terburu-buru".
dengak khasnnya wanita setengah baya itu menjawab sangat rengkuh seperti kebanyakan orang-orang desa lainnya. tepat sekali perkiraan ku. kecuali jawabannya tentang akan turun hujan benar-benar di luar dugaanku.
“Aden naik gunung sendiri? aduh lebih baik besok saja dilanjutkannya, hari sudah gelap".
(ibu itu meneruskan)
"Ga masalah kok bu, besok juga saya pasti kembali, saya hanya akan tinggal semalam saja". mungkin karena hari sudah gelap, perempuan itu tidak begitu ngotot mencegahku.
"ya sudah kalau begitu.. ibu pulang duluan, hati-hati, mudah-mudahan Aden baik-baik saja dan pulang dengan selamat" Ibu itu pun berlalu setelah pamit dan mendoakanku.

benar apa yang dikatakan ibu itu, tak lama kemudian setelah beberapa saat, angin yang tadinya behembus dengan kencang bergemuruh menerpa dedaunan perlahan mulai hilang dugantikan kesunyian. mula-mula kabut tipis turun. lalu, tak lama setelah itu kabut pekat pun menyusul menutupi jarak pandang merangkul seisi hutan dengan gejalannya yang khas yaitu butiran air lembut yang menempel di dedaunan. kunyalakan sebatang rokok berharap menemani kesendirian ku di tengah kesunyian hutan ini, memang baiknya segera aku melanjutkan perjalanan ini, tetapi rokok ditanganku masih cukup untuk menghabiskan waktu beberapa saat lagi, karena memang baru beberapa tarikan saja ku isap rokok ini. beberapa saat kemudian, terdengar gemuruh tapi bukan suara yang dihasilkan angin yang menerpa dedaunan,.

Gila!!! ternyata hujan turun dengan deras, kokok di tangan ku masih tersisa, mekipun tinggal satu tarikan terakhir, ku hisap dalam-dalam lalu kumatikan dan kemudian bergegas meneruskan perjalanan hujan dengan derasnya menghadang seolah-olah menhalang-halangi perjalananku. tidak hanya itu, kali ini hujan bersekongkol dengan gemuruh halilintar, tapi hujan dan halilintar tak berhasil menakut-nakutiku.

kilat halilintar memeranjatkan ku kembali, kali ini leih besar dan leih kencang dri sebelumnya! cahayannya lebih menyilaukan! gemuruhnya lebih menggelegar! aku tak bergeming! langkah kaki ini tetap ku paksakan, mekipun lelah sedikit-demi sedikit mengerogoti tubuhku. tapi hujan dan halilintar rupannya sama-sama lelah. perlahan mereka menghilang, digantikan hembusan angin yang menusuk tulang sum-sum, jalan menjadi sangat licin sekali, tak jarang aku terjatuh lemas tak berdaya. puncak gunung ini masih enggan menampakkan akhir dari jalan yang terjal, aku hampir menyerah dan sepertinnya benar-benar menyerah. aku terjatuh, ransel dipunggungku menambah berat tubuhku yang terjatuh.
sekujur badanku basah kuyup tetapi semangatku kembali terpacu, gerak demi gerak kulakukan, aku bangun untuk mendirikan kembali tubuh dan berjalan, satu langkah kaki berhasil ku gerakan, aku sangat ingin menyelesaikan perjalanan menuju puncak gunung ini, tapi rasannya ini adalah tiga langkah terakhir, ya... hanya tinggal beberapa tarikan nafas lagi, akhhhh... (aku terjatuh kembali) ditengah-tengah perjuangan perjalananku yang hampir tak terselesaikan terhadang lelah, aku melihat bunga edelwise, bunga abadi itu sedikit demi sedikit menampakan kuncup putihnnya yang indah, aku tarik nafasku kembali, kulangkahkan kakiku dengan harapan menggapai bungan dan puncak gunung ini, tapi... sepertinya aku tudak akan mampu, otot-ototku mengeliat kelelahan... aakkhhh.. ini usaha terakhirku mengeluarkan tenaga sekuat-kuatnnya, dan... aku terjatuh dan teringat peristiwa itu kembali, namun aneh, entah kenapa, kali ini justru yang ku ingat bukan peistiwa pengkhisnatan itu, justru persistiwa satu bulan kebelakang, saat detik-detik aku mendapatkan jawaban dan kepastian dia menjadi kekasihku..
detik-detik dimaana, aku duduk diantara meja dengan dua kursi yang saling berhadapan. dengan sangat hati-hati ku utarakan perasaan saat ini yang alalu aku simpan baik-baik dalam hati.. dengan harapan mendapat jawaban yang sesuai dengan harpan aku utarakan bahwa
"aku suka dan sayang kamu, aku cinta kamu, maukah kau jadi kekasihku?"
rasanya seperti gunung berapi menghempaskan larpa, bebeanku tumpah, hatiku tenang sejenak lalu aku dihadapkan pada kondisi hening, sepertinya dia mau menjawab, dengan gelisah bercampur rasa penasaran aku menunggu,
.. bibirnya membuka perlahan dan...
akhhhh,,, aku kembali tersadar bahwa saat ini tengah berada di puncak gunung dan sedang terjatuh, aku kembali tersadar diaman dan sedang apa aku sekarang, segera aku bangkit dari jatuh dan menyelesaikan langkah terakhirku, akhirnya puncak gunung ini telah aku gapai, ku rebahkan badanku dengan memandang langit, rupanya hembusan angin telah menyingkirkan kabut dan awan yang meyelimuti langit malam ini, bulan setengah penuh menemaniku kini, begitu pun bintang-bintang. saat ini aku duduk dan merenung, kembali aku teringat saat-saat dimana aku sedang berhadapan dengannya aku ingat saat-saat itu ia membuka bibirnya sedikit demi sedikit seraya menganggukan kepala, ia mengatakan satu kata yang teramat penting dan bermakna bahwa dia dia resmi menjadi kekasihku "ya" jawabnnya singkat, dengan iringan senyum di wajahnya.
saat itu, aku sangat senang dan bahagia, seperti menyelesaikan perjalanan pendakian gunung ini rasanya. sekilas memang sederhana dan tidak begitu menarik, tetapi jawaban itu adalah jawaban dari pertannyaanku yang ketiga kalinnya, setelah sebelumnya dua kali dia hanya bungkam yang berarti raga menerimaku. aku tersenyum sendiri mengingatnya. saat itu pula bangnan yang ku maksud mulai tercipta untuk dicita-citakan beramanya, kini aku hanya berharap peristiwa pengkhianatannya adalah suatu penangguhan akan sebuah kebenaran yang tertunda.
yaa????
mana bunga (edelwaise) abadi tadi, bunga yang membuatku bangkit dari jatuh, bunga yang membuatku semgat kembali untuk menarik nafas dan melangkahkan kembali kaki untuk enyelesaikan pendakian ini? ternyata bunga itu bersembunyi di nelakang tubuhku, kubakikan badan dan mendekatinnya, meyentuhnya lalu mencumbunya, terasa dingin di bibir, hujan yang membasahinya telah menyisakan air yang kini melekat dibibirku. hendak kuraih untuk dipetik, tapi kuurungkan niatku, kulepaskan gengaman tanganku, mataku melihat kebidang sejajar yang lain, ohhh Tuhan!!! lampu-lampu di kota besar terlihat jelas, teramat sangat indah. kembali kurebahkan badan ini menegadah menghadap rembulan kurenungkan bahwa: badai pernah kutembus, kegelapan malam berkali-kali kulalui, semua itu terjadi ditengah-tengah lebatnya rimba alam ini dan tak pernah membuatku mengurungkan niat untuk menggapai puncak gunung. bahkan di bawah sana! pistol pernah ditodingkan tepat kearah jidatku, golok dan cerulit diletakan diantara dagu dan dadaku, semua itu tidak pernah meribah pendirianku untuk menggapai jawaban atas segala kegelisahan.

aku kembali terjaga, teringat kembali penyebab, kenapa saat ini aku berada disini, adilain waktu: badai, kegelapan malam, pistol, golok dan cerulit bukanlah sesuatu hal yang berarti, tapi orang-orang seperti aku ini selalu menempatkan perempuan dan sebatang lebih berpengaruh dari semua penjajahan didunia. Ibu yang hampir tua yang berpapasan dihutan tadi, pergi menelusuri hutan hanya untuk mendapatkan seikat kayu keing untuk menyalakan perapian di dapur agar seisi rumah dapat menikmati makanan yang dimasaknya, sementara aku pergi kepuncak gunung nan sunyi ini dengan pelbagai kebanggaan yang kebanyakan justru melahirkan keponggahan, luasnnya hutan, tingginya gunung hanya menjadi bekal cerita bahwa "aku pernah menginjakan kaki di gunung intu!"

ibu pemungut kayu kering itu menelusuri hutan dan menapaki gunung dengan tujuan menyambung hidup diri dan keluarga, sementara aku hanya untuk melarikan diri, lari dari masalah, bahkan hanya karena dikhianati perempuan. mencari jawaban atas kegelisahan macam apa yang kucari ini? dipuncak gunung ini aku tidak menemukan bidadari yang turun dari langit yang menggantikan perempuan penkhianat yang hampir kulupakan itu. saat ini, malam ini, dipuncak gunung ini aku hanya meliha betapa kecilnya manusia didunia ini, kota-kota besar tempat kesibukan manusia dengan segala kemewahan dan gemerlap keindahan dunia dibawah sana terlihat tak lebih hanyalah sekumpulan dari kedipan cahaya-cahaya kecil yang mungkin, seandainnya Tuhan berkehendak teramat mudah sekali menghancurkannya.

perlahan rembulan merayap kearah barat, bintang-bintang mengikuti. malam ini telah kulalui, hari berganti, rembulan digantikan mentari membawa pesan untuk segera turun gunung. bintang-bintang menghilang, langit biru menjelang. kusiapkan diri untuk pulang membawa jawaban dari pencarian.
langkah demi langkah kuayunkan menuruni punggungan dan lembahan gunung yang curam, perjalanan pulang terasa lebih cepat dari pendakian. tak terasa perjalanan pulang hampir kutuntaskan, hutan sudah kulewati. kini aku berada diperkampungan kaki gunung malabar, "ya tuhan" (dalam hati ku bertanya). kenapa banyak pohon-pohon yang tumbang, kuteruskan berjalan, lebih bergegas, kudekati perkampungan yang berderet ditepi jurang dekat sungai itu.
Ya Tuhan!!
apa yang telah terjadi? apa yang menimpa erkampungan ini? rumah yang berjajar itu raib tertimbun gunukan tanah merah bercampur pohon-pohin besar tak berdaun, tak terkecuali mesin pengeruk beserta beberapa truk dilahap tanah loingsor itu, beberapa orang sedang sibuk menggali tanah yang menimbuni rumah. kulihat raut muka mereka gelisah bercampur sedih. rupanya longor telah menelan rumah-rumah penduduk. galian pasir dan penemabgan pohon menjadi penyebab utama terjadinya longsor setelah tadi malam hujan lebat itu mengguyur gunung dan perkampungan. kutanggalkan ransel dari punggungku, kuraih cangkul yang tergeletak di tanah untuk kugunakan sebagai penggali timbunan tanah itu. salah seorang dari penduduk berkata:
"beberapa korban telah terangkat, tinggal seorang ibu beranak dua yang masih tertimbun!!"
tiba-tiba, aku teringat ibu pemungut kayu bakar yang bertemu denganku di hutan kamarin, kupnalingkan pandanganku kepenjuru lain tumpukan tanah. terlihat dua orang anak kecil berdiri dengan kepala tertunduk sambil menangis, didepan mereka terbaring seorang jenazah perempuan yang baru saja ditemukan oleh salah seorang penduduk lain yang juga melakukan pencarian. perempuan itu adalah ibu dari kedua bocah yang menangisi jenazah tersebut, kedua bocah itu tidak menjadi korban, karena sewaktu longsor itu terjadi mereka masih berada di madrasah untuk mengikuti sekolah agama yang biasa dilakukan sehabis solat subuh. mungkinkah yang merela tangisi itu jenazah ibu pencari kayu bakar yang bertemu dengan ku di hutan? (dalam hati kubertanya).

hatiku kembali terkoyak, aku tidak mampu berbuat apa-apa, jawaban macam apa yang telah kudapat dari pendakian gunung ini yang mampu mengatasi persoalan-persoalan yang nyata-nyata terjadi di sini. kematian memang sebuah keniscayaan, tpi dengan cara bagaimana dan melalui apa kematian itu datang selalu menjadi perhanyaan dalam hati ini. terutama yang menimpa warga kampung yang terkena longor ini. adilkah membiarkan orang-orang desa selalu menjadi korban keserakahan pada pemegang hak penggali pasir yang tepat dilakukan diatas rumah mereka?? bencana memang telah terjadi, tapi aku hidup didunia nyata yang selalu mencari sebab akibat, kenapa bencana ini terjadi?

aku benar-benar tidak mampu mengingat kembali perselingkungan kekasihku dengan laki-laki yang berhasil menidurinya kemarin, yang kurenungkan saat ini bahwa ternyata hidup ini gunung yang didaki, kutelusuri terjalnya melalui langkah-langkah menapaki punggungan menerawang dimensi ruang dan waktu, aku menemukan sedikit arti dari sebuah penemuan disaat aku duduk terdiam dipuncak dan begitu selanjutnya. kuturuni kembali punggungan untuk menhadapi kemunafikan dan penkhianatan di lembah sana, ternyata bukan!! yang kuhadapi adalah realiatas kehidupan bahwa banyak manusia yang membutuhkan perjuangan melawan tirani ketidakadilan.

Kamis, 04 Juni 2009

Hutan Hujan Malam Pelarian


oleh: Ucok Dian Ardiansyah*


klik disini untuk English version

Hutan Hujan Malam Pelarian, sebuah teks puitik - tulisan dari Irwan Jamal yang pernah dipentaskan dua kali masing2 dengan sutradara Syamsul Fajri Nurawat dan Irwan Jamal sendiri - menghasilkan banyak imaji di kepala saya selaku sutradara untuk melakukan interpretasi teks dari teks asli naskah ini. Dalam teks asli, seluruh tokoh hanya menjadi pencerita yang secara naratif menjelaskan kejadian2 yang mereka alami selama pelariannya dari merampok di sebuah kota. Semakin dalam akhirnya saya berhasil mempermainkan teks menjadi penuh dengan interupsi. Narasi tidak lagi menjadi milik tokoh perampok, melainkan oleh Joker yang masuk dan menginterupsi kejadian kejadian. Seluruh cerita akhirnya berjalan dan digulirkan lewat sudut pandang Joker.

Dalam Pertujukan HUtan Hujan Malam Pelarian tanggal 30 Mei 2009 kemarin saya berusaha melakukan refleksi terhadap tragedi Mei 98, sebuah tragedi kelam bangsa yang saya fikir tidak perlu harus terulang hingga kesekian kalinya di negeri ini. Hutan Hujan Malam Pelarian disini saya tafsirkan sebagai sebuah narasi kecil yang mungkin terjadi ketika kerusuhan maupun pasca kerusuhan di Indonesia. Semua tokoh menjadi tokoh yang abu - abu, bsa menjadi sangat lliar dan bisa pula menjadi sangat oportunis, intinya saya berusaha untuk meng - create tokoh - tokoh yang sangat manusiawi.

Pertunjukan Hutan HUjan Malam Pelarian berusaha untuk menawarkan ruang imaji dan visual yang meledak - ledak dan berharap mampu menggedor relung bathin penonton untuk masuk dan berdiri dalam posisi orang - orang di dalam tragedi mei 98, baik itu korban maupun pelakunya. Sebagai sutradara tentu saja saya berharap bahwa pertunjukan ini memberikan efek yang terapist bagi penontonnya, yaitu secara riil kita nantinya akan dapat bergandengan tangan - minimal - untuk memaksa penguasa negeri melakukan pengusutn tuntas terhadap tragedi berdarah ini.

Apa yang saya lakukan ini bukanlah sebuah keinginan untuk menggurui publik, tapi lebih sebagai bentuk kepedulian saya ( atau kami dari Teater Casa Nova ) sebagai anak bangsa yang merasa perlu untuk memberikan sumbangsih tenaga, suara, dan fikirannya bagi negeri ini kedepannya. Semoga kita bisa segera keluar dari krisis, Amin!

*DIAN ARDIANSYAH
SUTRADARA

Minggu, 05 April 2009

POLIANDRI, BUKAN TIDAK MUNGKIN BENAR-BENAR AKAN POPULER. Sebuah Anekdot Tentang Poliandri

"aku lelaki tak mungkin

meneimamu bila

ternyata kau mendua

membuat ku terluka"

(Iwan Fals: Bukan Pilihan)

Salah satu bait lagu yang dipopulerkan oleh Iwan Fals diatas adalah pertanda bahwa laki-laki belum mau dimadu. Hal itu mungkin masih mampu mewakili masyarakat populer saat ini, karena saat ini secara eksplisit laki-laki masih sebagai ‘pemegang hak mendua’ meskipun mungkin secara implisit ada fenomena yang justru sebaliknya terjadi. Artinya dalam masyarakat saat ini fenomena poligami masih rentan terjadi.

Poligami yang oleh sebagian masyarakat diharamkan itu belum lama ini pula telah diprotes kembali oleh kaum wanita yang mengatasnamakan gerakan anti poligami, bentuk protes itu baik yang diaktualisasikan lewat forum diskusi maupun demontrasi turun kejalan, bahkan sebagian negara telah mengesahkan konstitusi tentang larangan praktek poligami, seperti di Prancis dan beberapa negara-negara Eropa.

Bagaimana dengan poliandri? Rasanya di Indonesia poliandri begitu sangat tabu diucapkan, terdengarpun terasa sangat tidak akrab, apalagi menemukan kasusnya.

Poliandri adalah perkawinan dengan lebih dari satu laki-laki (suami), seperti di suku Eskimo di Tebet dan bangsa Toba di India Utara (Alex M.A 2005: 507), merujuk pada pengertian tersebut sendainya poliandri di artikan secara literal dalam aplikasi di masyarakat, jelas memang tidak realistis dan memang tidak terjadi (mungkin?).

Tapi bagaimana jadinya kalau memang fenomena poliandri diprediksi akan terjadi didalam satu masyarakat dengan beberapa asumsi dan hipotesa.

Mendua’ Sebagai Sinyalemen dan Bibit Poliandri.

Tanpa bermaksud menyudutkan kaum wanita, fenomena ini tidak dimaksudkan untuk men-generalisasikan konstruksi asumsi publik pada masyarakat yang lebih luas dan kompleks, dari hasil analisis yang dilakukan pada satu komunitas kecil (yang dirahasiahkan lokasinya 2002-2006), fenomena mendua itu benar-benar terjadi, wanita selalu menjadi bahan rebutan, dan karena menjadi bahan perebutan maka terciptalah hak prerogatif wanita dalam menentukan pilihan, artinya wanita mempunyai determinasi pilihan dengan siapa dia akan/ingin berpasangan --pada beberapa laki-laki yang menginginkan tentunya—dengan siapa, ketika pilihan itu dijatuhkan yang terjadi ialah ‘menganggurnya’ laki-laki yang tidak dijadikan pilihan, keadaan seperti itu memungkin disuatu saat selanjutnya wanita akan melakukan pemilihan kedua terhadap substitusi yang lain, kasus seperti itu memungkinkan antara pilihan utama dan kedua adalah dua objek yang sangat dekat secara psikologi (teman) dalam berkompetitif, tapi kondisi/keadaan ini seperti keadaan yang biasa, dari pengamatan selama ini, jarang sekali terdengar ada konfrontasi radikal yang diakibatkan kejadian (peristiwa) diatas.

Asumsi Awal

Fenomena ‘mendua’ sebetulnya hanya produk biologi dari sifat kualitatif pasangan (oposisi biner laki-laki - wanita) artinya ‘mendua’ adalah jawaban atas kebutuhan primer manusia, terlepas laki-laki maupun wanita (poliandri - poligami), keterbatasan pilihan pasangan membawa seseorang untuk melakukan praktek ‘mendua’ yang bersifat (mungkin) melayani.

Dari asumsi tersebut penulis melontarkan estimasi bahwa di tempat terjadinya praktek poliandri keberadaan jumlah wanita lebih sedikit dari pada laki-laki, dan hal itu yang menjadikan wanita menjadi sesuatu yang spesial karena keterbatasan jumlahnya, dan mungkin dalam suatu masyarakat lain sebaliknya terjadi maka jawabannya harus diakui (dilegitimasi) adalah poligami.

Estimasi itu ternyata terbukti, data menyebutkan bahwa dari tahun 2000 s.d 2006 jumlah wanita yang ada pada tempat dilakukannya analisa lebih sedikit dibanding laki-laki, data itu menyebutkan total keseluruhan jumlah laki-laki hampir dua kali lipat dari wanita, secara praktis memang kenyataan itu tidak dapat menjadi determinasi absolut akan terjadinya fenomena serupa karena rupanya tidak sedikit wanita (mungkin juga laki-laki pada kondisi sebaliknya) yang merasa cukup, cocok dengan pasangan pada pilihan pertamannya artinya tidak melakukan praktek ‘mendua’. Dalam bagian ini pula perlu disampaikan bahwa fenomena ini tidak bisa menjadi bahan untuk mengasosiasikan wanita pada kondisi yang sama pada suatu tempat yang lebih luas.

Dari kenyataan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa ditempat dilakukannya analisa, beberapa laki-laki pernah menjadi salah satu pasangan dari wanita yang sama, sementara kondisi itu “tidak” bagi wanita. Atau secara implisit beberapa laki-laki pernah menjadi korban ‘poliandri’ (‘poliandri’: mereduksi bahasa - mendua).

Inequaliti Gender Determinasi Tuhan?

Inequaliti Gender (ketidakadilan jender) salah satunya adalah praktik poligami. Poligami secara terminologi berarti perkawinan yang dilakukan terhadap lebih dari satu orang atau lebih, namun juga lebih cenderung diartikan perkawinan seorang suami dengan dua orang istri atau lebih (ibid). dalam pembahasan ini fenomena yang diambil lebih melihat pada kajian universal diluar dari bahasan sebelumnya (poliandri), salah satu contoh kasus adalah gerakan anti poligami yang diprakarsai oleh para eksponen feminis terhadap praktek poligami, dalam pembahasan ini tidak diperlukan pencarian diskursus yang menghasilkan konklusi seperti fenomena ‘poliandri’ diatas karena kita telah mendapat kenyataan bahwa poligami telah dimasukan kedalam salahsatu bentuk ketidakadilan jender (mungkin suatu hari kenyataan poligami ada dan menjadi faktor/bagian dari ketidakadilan jender?), terlepas para feminis mengkritisi poligami dari kacamata legalitas ataupun terhadap para oknum pelaku poligami yang secara praktis hanya menjadi seorang oportunis yang menggunakan legalitas poligami hanya untuk memenuhi kepuasan hedonis dan eksploitasi tubuh wanita semata (tidak berkaca pada praktek yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dan beberapa tokoh lain yang melakukan dengan benar-benar dan banyak pertimbangan kriteria).

Kalau praktek poligami sebagai ketidakadilan gender lalu dimana letak maksud bahwa itu konstruksi/desain/ketentuan - rekayasa tuhan?

Dalam perspektif kajian ini penulis sangat percaya bahwa manusia tidak berhak mencampuri urusan Tuhan secara otonom (manusia), karena tidak ada satu pemikiran dan bahasa apapun yang mampu mewakili kebesaranNYA, seandainya menuturkan bahasa dan kata ini adalah kesalahan (bukan kebenaran) bagaimana dengan hanya diam dan membisu apakah merupakan kesalahan pula kalau diam dan membisupun adalah bahasa dan kata-kata.

Jadi dalam hal ini penulis hanya mencoba melihat kenyataan keadilan Tuhan!

Laki-laki dan wanita berbeda?, jawabannya benar! hal itu secara eksplisit dapat dilihat dalam sistem reproduksi manusia dalam ilmu biologi terutama dalam proses pembuahan laki-laki terhadap wanita, dalam hal ini kita masih ingat tentunya pelajaran biologi di sekolah menengah (SMU), yang menerangkan bahwa; wanita hanya memiliki jenis sel telur XX yang berpotensi melahirkan kelamin wanita, sedangkan sel reproduksi laki-laki XY (bukan YY) yang berpotensi melahirkan sex laki-laki dan wanita. dilihat dari ketentuan itu secara skala kualitatif jelas menurunkan jenis kelamin (sex) wanita mempunyai potensi yang lebih besar dibanding laki-laki. proses itu merupakan kebenaran absolut yang tidak bisa diubah. Meskipun pada prakteknya ada metodologi kedokteran yang dapat dilakukan sebagai usaha untuk mendapatkan keturunan dengan jenis kelamin yang dapat disesuaikan dengan apa yang diinginkan kedua pasangan (suami – istri). Namun hal itu hanya bersifat teoretis, pada kenyataannya predeterminasi Tuhan yang mempunyai kendali penuh (logos). Ketentuan itu menghasilkan jumlah laki-laki lebih sedikit dibanding wanita, sehingga secara matematis seandainya jumlah laki-laki adalah setengah dari jumlah keseluruhan (akumulasi jumlah laki-laki dan wanita) adalah ideal adanya karena secara oposisi pasangan tidak ada substitusi (yang tidak mendapatkan pasangan), tapi lain hal seandainya pada kenyataannya wanita memang masih lebih banyak dibanding laki-laki, artinya ketentuan pasangan satu lawan satu menghasilkan sebagian wanita tidak mempunyai pasangan dan tentu dalam hal ini jawabannya adalah poligami.

Bagaimana sendainya kondisi itu berbalik, seandainya fenomena kualitatif pada kenyataan yang terjadi pada contoh kasus pada faktor praktek ‘poliandri’ yang dipaparkan diatas justru menjadi kenyataan dalam dunia universal saat ini? apakah ini akan menjadi paradigma baru dalam kajian jender , apakah ini yang diramalkan sebagai kehancuran dunia (kiamat) yang disebutkan dalam banyak literatur keagamaan, atau bahwa metodologi kedokteran tentang rekayasa pengaturan kelahiran sesuai jenis kelamin merupakan rekayasa kaum tertentu yang diciptakan sebagai pengusungan akan dunia yang berbalik. Atau memang dunia ini akan berjalan sesuai dengan apa adanya.

Wallahualambisawab

Semoga saja hanya menjadi selentingan anekdot yang terjadi di tempat suatu tempat nonrealis belaka.

Senin, 02 Maret 2009

agenda pertemuan Jalan Malam


info:

kita ngumpul sekalian putsal (bagi yg mau ikutan) hari rabu jam 7 malem di dago...
pokonya sekurang2nya ada beberapa agenda yg bisa kita inisiasi:

1. silaturakhmi setelah sekian lama ngak ngumpul & jalan bareng
2. mengekspresikan ide2 temen2 JM di forum
3. rencana acara rally foto antar JM..

jangan lupa bawa kamera bagi yg punya, bawa jaket (baju anget) bagi yg mau putsal, bawa makanan bagi yg inget gue... hihi

info selanjutnya tunggu di update ya,,, sekalian nunggu respon..