sound track of JMB

Tampilkan postingan dengan label jalanmalambandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalanmalambandung. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Juli 2009

Andreas Hadter Jalan Kaki Melintasi Lima Negara Dalam 10 Tahun

sumber : www.kpk2007.wordpress.com



Bapak tiga anak itu berjalan kaki sejauh 2.227 kilometer, kira-kira setara dengan berjalan lurus bolak-balik dari ujung barat ke ujung timur Pulau Jawa. Dia melintasi lima negara, dari Jerman, Tjesna, Austria, San Marino dan berakhir di Italia, selama 10 tahun.Oleh Sri Pudyastuti, Jerman, via Koran Tempo

Mengapa Andreas Hadter, 53 tahun, bersusah payah melakukannya? “Saya kan juga perlu cuti dari urusan keluarga,” katanya bergurau. Tapi, dia tak bergurau ketika menerbitkan catatan pengalamannya berjalan kaki itu dalam sebuah buku bertajuk Spaziergang nach Rom (Jalan Kaki ke Roma).

Perjalanan itu berawal dari hobi Andreas dan sepupunya, Michael, berjalan kaki di Vechelde, sebuah kecamatan yang terletak sekitar 45 menit berkendaraan dari Hannover, Jerman. Mereka biasanya berjalan 40-50 kilometer yang ditempuh dalam sehari.Lalu, mereka mencari tantangan baru dan sebuah kenyamanan dengan memilih untuk melancong ke Roma. Alasannya, “Karena utara (Jerman) lebih dingin, sedangkan Italia ada di selatan lebih hangat,” kata Andreas.

Akan halnya Michael, teman bermain Andreas sejak kanak-kanak, punya alasan sendiri. Ide itu disetujuinya karena ia perlu curhat soal masalah pribadi, yang tak bakal bisa berkesinambungan dibicarakan kalau tidak sedang berduaan seperti jalan kaki itu.

Untuk perjalanan panjang ini, mereka masing-masing harus memanggul ransel seberat 10 kilogram. Ransel itu berisi pakaian dan peralatan kemah serta puluhan peta. “Peta itu bekal terpenting. Paling susah kalau masuk wilayah negara lain, karena garis di satu peta berbeda dengan lainnya. Itulah kenapa kami perlu peta dari berbagai versi,” kata Andreas.

Untungnya Eropa punya peta khusus rute pejalan kaki, jadi lebih gampang memilihnya. Uraian wilayah di peta pejalan kaki tidak sama dengan rute mobil. Maka di tahun 1996 itu, mulailah mereka melewati etape pertama: 35 kilometer menuju Wolfenbuttel, kota kecil setelah Vechelde, ditambah 30 kilometer lagi ke Pegunungan Harz. Etape ini bisa diselesaikan dalam sehari, sehingga mereka bisa pulang ke rumah hari itu juga.

Hari-hari berikutnya mereka berjalan lebih jauh lagi. Kadang etape-etape selanjutnya makan waktu 3-4 hari. Itu artinya mereka mesti menginap di hotel, lalu pulang dengan kereta api, sebelum merancang waktu lagi untuk menempuh etape selanjutnya. Dalam perjalanan itu Andreas banyak mengalami peristiwa-peristiwa lucu. Ia, misalnya, baru tahu bahwa sepupunya tak pernah mau memakai baju bekas pakai di hari sebelumnya. Michael juga selalu buru-buru ganti baju jika tubuhnya terkena hujan, meski cuma rintik-rintik. “Sepertinya dia ketakutan bakalan sakit karena badannya basah,” kata Andreas.

Alhasil, semua baju bekas pakai itu dibuang atau dipaketkan ke rumahnya. Memang ransel jadi lebih enteng, tapi jadi masalah ketika baju tinggal sepotong, sementara jarak yang ditempuh masih puluhan kilometer lagi dan tidak ada toko baju di sekitarnya.

Salah satu medan berat yang harus mereka tempuh adalah ketika mereka melintasi pegunungan Alpen selama setengah bulan dan menempuh jalan yang ternyata berujung ke daerah sepanjang Laut Mediterania, Po Ebene, yang temperaturnya luar biasa panas, sampai 40 derajat Celcius. Andreas mesti membeli berliter-liter botol air minum di sini. Bayangkan berapa liter air minum yang mesti ditenggak jika daerah ini mesti tiga hari dilewati? Bayangkan juga bagaimana tersiksanya Michael, si anti-baju bekas pakai itu, mesti berhari-hari memakai baju penuh keringat.Mereka juga pernah tersesat berjam-jam dan harus melewati lagi jalan yang sama sebelum menemukan rute yang benar. Sempat pula jalan mereka tersendat-sendat lantaran dengkul Michael bermasalah, yang memaksa mereka beristirahat setiap 10 kilometer. Ketika dengkul Michael bertambah parah, dia terpaksa menumpang bis ke etape berikutnya, meninggalkan Andreas jalan sendirian. “Enak malah. Kalau sendirian malahan bisa jalan puluhan kilometer tanpa istirahat,” ujarnya Andreas.

Tantangan terberat mereka sebenarnya adalah tekad. Setiap tahun mereka harus membulatkan kembali tekad mereka untuk sampai ke Roma dengan melanjutkan etape berikutnya. Tekad itu, untunglah, tidak luntur hingga mereka merampungkan seluruh jalur pada 2006. “Ini memang ide sinting, tapi kami puas begitu menapakkan kaki di Kota Roma,” kata Andreas.

Pengalamannya itu kemudian dituangkan ke dalam buku, yang bahkan sudah mulai Andreas tulis sebelum rute berakhir. “Saya perlu tiga tahun untuk menyelesaikannya,” kata Andreas tentang buku setebal hampir 500 halaman yang ditulis dengan gaya santai dan jenaka itu.

Lantas ia pun mulai menawar-nawarkan bukunya ke beberapa penerbit. Sayang, karena belum punya nama, tak ada penerbit yang tertarik. Terpaksa buku itu diterbitkannya sendiri dengan ongkos produksi 800 euro (hitung sendiri ya :)) untuk 5.000 eksemplar. Pemasaran buku hobi semacam ini memang tak bisa diharap bakal laris seperti halnya novel atau biografi.Andreas mahfum. Maka, ia melakukan banyak hal untuk mempromosikan bukunya. Dia, misalkan, menulis petunjuk singkat tentang olahraga jalan kaki di internet. Ia juga ikut memamerkan bukunya di pameran buku terbesar kedua dunia, Leipzig Book Fair, tahun lalu. Usahanya tak sia-sia. Artikelnya muncul di koran lokal Braunschweiger Zeitung. Bukunya juga diresensi pembaca di Internet.

Toko Buku Graf, toko buku ternama yang amat selektif menjual buku di Jerman, akhirnya bersedia menjual buku Andreas. Selain itu ia diminta membedah bukunya di depan para dokter yang punya minat pada olahraga jalan kaki. Di tengah persaingan ketat penjualan buku di Jerman, dalam tempo setahun peringkat bukunya terdongkrak naik dari nomor 1.000.000 ke nomer 40.000. Terang saja Andreas lega. “Saya belum menikmati royalti, tapi saya puas,” kata wiraswastawan itu.

Tapi, omong-omong, apa sih enaknya jalan kaki sejauh itu? “Sulit digambarkan perasaan saya ketika memandang keindahan lukisan alam sepanjang perjalanan. Tapi, kalau diambil analoginya, mungkin rasanya sama dengan perempuan yang doyan belanja,” kata Andreas.

Namun, perjalanannya belum tamat. Tahun ini dia memulai proyek baru: bersepeda keliling Laut Baltik, sungai besar yang memisahkan lima negara — Island, Lettland, Lituania, Rusia dan Polandia — sepanjang 7 ribu kilometer.

(wah.. menginspirasi pisan, hayu atuh yg muda2, jangan kalah spirit!!!:))

Senin, 02 Februari 2009

APRESIASI: ART FROM CAMPUS


kawan2 saya mengajak semua temen2 jalan malam untuk berapresiasi musik di STSI Bandung pada:

hari/tanggal : kamis 5 Februari 2009
tempat : GK. Sunan Ambu STSI Bandung

acaranya nonton musik samba sunda
acara ini diselenggarakan oleh kawan-kawan 'muka production' mahasiswa jurusan karawitan STSI Bandung...

khusus buat kawan-kawan jalan malam, abis nonton bareng kita akan berdiskusi tentang agenda lanjutan jalan malam ok....

gratis 100%

Minggu, 14 Desember 2008

Jalan Malam Bandung


KOMUNITAS JALAN MALAM BANDUNG
( BANDUNG NIGHT WALKER COMMUNITY )

Komunitas Jalan Malam Bandung adalah sebuah kegiatan kepemudaan yang digagas sebagai counter dari maraknya organisasi kepemudaan yang justru menjadi kontra produktif bagi image pemuda Indonesia. Organisasi ini adalah sebuah bentuk perlawanan budaya terhadap buruknya citra pemuda Indonesia di kebanyakan kalangan. Komunitas Jalan Malam adalah sebuah wadah berkreativitas bagi para pemuda yang mempunyai ide – ide Revolusioner multi bidang. Siapa saja dapat bergabung untuk membicarakan berbagai macam aspek yang menyangkut bangsa Indonesia. Di komunitas ini kita dapat dengan bebas membicarakan banyak hal seperti kesenian, kebudayaan, politik, ekonomi, pendidikan sampai hal yang mungkin bagi kebanyakan pemuda di Indonesia adalah hal yang tabu untuk dibicarakan, Revolusi!
Komunitas Jalan Malam bukanlah sekedar ruang untuk melepaskan kesenangan atau ruang untuk menjadi hedonis walau kegiatannya terkesan menjadi sangat hedonistik. Ia akan menjadi ruang berbagi lintas disiplin ilmu. Siapapun dapat bergabung dengan komunitas ini. Lebih jauh lagi Komunitas Jalan Malam akan mengadakan agenda rutin setiap bulan dengan program yang kita sebut sebagai Napak Tilas Bandung. Kegiatannya sebenarnya sangat sederhana, kita akan berjalan dengan rute tertentu dan tema tertentu yang akhirnya akan dibahas lewat diskusi dengan multi disiplin ilmu dan tentu saja sudut pandang yang berbeda terhadap kasus yang akan dibahas. Komunitas ini sangat terbuka terhadap perbedaan sudut pandang dang tidak akan melakukan penyeragaman terhadap cara berfikir anggotanya.
Target kedepannya bukan hanya diskusi saja, akan tetapi bagaimana diskusi yang rutin dilakukan itu dapat diaplikasikan dengan sikap dan tindakan yang nyata dan tentu saja akan dilakukan lewat agenda komunitas. Inilah yang akan kita lakukan lewat komunitas ini. Kenapa harus jalan malam? Bukan Jalan Siang? Malam selalu menawarkan kontemplasi dan ketenangan, siang hari di Bandung akan menyajikan kemacetan dan keriuhan sehingga tidak akan tercapai ruang kontemplasi dan fikiran yang tenang untuk menghasilkan gagasan – gagasan baru terhadap perkembangan gerakan kepemudaan di Indonesia.
Komunitas Jalan Malam akan terus berusaha untuk menjadi komunitas non – profit yang menjaga sikap dari keberfihakan sikap politik tertentu, oleh karena itulah ia akan terus berjalan dengan anggota yang mungkin saja akan berubah – ubah setiap jadwal perbulannya. Jadi apa yang anda tunggu? Jika anda memiliki cara berfikir yang cukup revolusioner dan kreatif, pakailah jaket anda dan bergabunglah dengan Komunitas Jalan Malam Bandung!


Dian Ardiansyah ( Ucok ), Mahasiswa STSI Bandung Jurusan Teater
kocU_art@yahoo.com
papua_in_me@friendster.com





BANDUNG NIGHT WALKER COMMUNITY

Bandung Night Walker Community is a young people event created as a counter of many young people organization which make a contra productive for young people organization in Indonesia. This organization is a form of cultural rebellion of organization’s bad image in many people’s opinion. Bandung Night Walker Community is a creativity place for every young people who have revolutioner idea in every sector. Everybody can join us to talk about every aspect in Indonesian problems. In this community we can talk freely about many problems like art, culture, politics, economy, education, until the problem which is in many young people probably forbidden to talk about, Revolution!
Bandung Night Walker Community is not a room for only fun or a room to become a hedonist although the event imaging it like an hedonistic organization. It will be a room for sharing every discipline of knowledge. Everybody can join this community. Further, Bandung Night Walker Community will hold a monthly event with a programme that we called as Napak Tilas Bandung. The event actually is very simple, we will walk in a specific route and specific theme that finally will be discussed in every discipline of knowledge and of course different point of view from the discussed cases. This community will be open for point of view’s differences.
The next target not only just discussion, but also how the discuss can be applicated with the real attitude and of course run in the community agenda. Why must walk in the night? Not a day? Night is always offers a silency and contemplacy and the day in Bandung will offers crowded, that’s why the day cannot gives a contemplacy room and a relax mind to produce new ideas for development of young people movement in Indonesia.
Bandung Night Walker Community will always try to be a non – profit community and not affiliated to every politic party, that’s why it will keep run with the member who always keep in change in every month. So what are you waiting for? If you revolutioner enough and creative, put on your jacket and join Bandung Night Walker Community!

Dian Ardiansyah ( Ucok ) Student of STSI Bandung, Department Of Theatre
kocU_art@yahoo.com
papua_in_me@friendster.com

jalan malam bandung #1

akhirnya,,,

tadi malam, 21-22 desember 2008 jalanmalambandung perdana menapakkan langkah kakinya di jalan dan trotoar Bandung...

adalah: Rahmat (mamat rakoes), Ucok Ardiansyah, Codrat, Julfa, Dede Makasar, Ajiw, Sendy, Ojeal_Head (muhammad ilham) beberapa teman dari Fikom Unpad: Silmi, Prima, dan Andi (Unpar) yang bergabung melalui pertemuan di Jalur Cikapayang, di bawah PO Pasoepati,, melakukan jalan malam dengan rute: Gazibu, Dago, BIP, Braga, Asia-Afrika dengan peristirahatan dan pertemuan terakhir di (0 Km) Nol kilometer Bandung (Savoy).

ada banyak, gambar, adegan, cerita dan reportase menarik dari kegiatan perdana tadi malam, untuk gambar bisa di lihat di:

http://www.facebook.com/album.php?aid=2003746&l=1cdf8&id=1058386485

buat Melda, dan beberapa kawan yang nggak sempet dapat info,, mohon maaf... C U di "jalanmalambandung" selanjutnya :)