sound track of JMB

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Oktober 2009

Senja.. yang jingga

Pukul 11.15 siang. Aku merasakan ada belaian lembut di kepalaku. Dengan susah payah aku membuka mata. Mengerjap-ngerjap silau. Tirai jendela yang tepat berada di atas kepalaku sudah dibuka. Cahaya matahari tak segan lagi merangsek masuk melalui kaca jendela. Kau berdiri disana. Disampingku. Hari ini kau masih mengenakan gaun putih, rambutmu yang sebahu sengaja kau gerai. Perpaduan antara cahaya matahari, gaun putihmu, dan kulit putih pualammu semakin membuatku silau. Aku terbangun dan duduk, masih di tempat tidur. Mengucek-ngucek mataku sebentar. Tangan kirimu mengetuk-ngetuk jam tangan di tangan kananmu. Mungkin kau ingin bilang, sudah jam berapa sekarang?ini sudah siang. Aku tersenyum. Iya..aku sudah punya janji untuk pergi denganmu hari ini bukan?! ke tempat kesukaanmu. Tempat yang damai, katamu. Kau menarik-narik tanganku, memaksaku bangun dan menyuruhku untuk segera mandi, sambil meledekku dengan bilang kalau aku bau. Aku berhenti sebentar di pintu kamar mandi, melirikmu sebentar sambil bersenandung " kau cantik hari ini.." sambil tersenyum. Kau tertawa mendengarnya. Ya.. teruslah begitu! Aku suka melihatmu tertawa. Aku suka melihatmu Diandra-ku. Separuh jiwaku.
Sekarang aku sudah mandi. Sudah wangi. Walau belum ganti baju.
" mau teh?" kataku. Kau mengangguk. Aku menyeduh dua cangkir teh, lalu membawanya ke meja makan kecil dimana kau sudah duduk manis disana. Ini sudah hampir waktunya makan siang. Tapi buatku, ini masih termasuk sarapan. Aku mengambil roti sisa yang akan kadaluarsa besok. Kau mengomeli aku kemarin untuk segera menghabiskannya sebelum kadaluarsa.
" itu ngga sehat, nanti kamu keracunan " katamu.
" itu tak akan membuatku mati, sayang.." jawabku, meledekmu. Dan kau hanya memasang muka manyun. Aku menikmati sarapan kesianganku ini. Tiba-tiba dagumu mengisyaratkan sesuatu. Menunjuk ke sebuah gitar yang kusimpan di kursi makan di sebelahku. Hmm..kau ingin aku menyanyikanmu sebuah lagu? Baiklah! Aku mengambil gitarku, dan mulai menyetem senarnya agar nadanya sesuai. Kau menopang dagu dengan kedua tanganmu. Terus tersenyum. Seakan-akan aku adalah seorang idola, dan kau adalah penggemar fanatikku. Dan akupun mulai bernyanyi..

There's a place that we can go
A place where I can finally let you know..
I hope you find
whatever you've been lookin' for
Just remember where you're from
and who you are
'Cause there's a thousand lights
that'll make you feel brand new
But if you ever lose your way
I'll be right here for you
Cause I'm the one that loves you lately
You and me, we got this great thing
So, come back and you sit down. Relax..
Everything's to see
that you've come a long, long way
And it's the place that you should be..

[ Love You Lately_Daniel Powter ]

Kau bertepuk tangan ceria. " terima kasih.. terima kasih, i love you too!" kataku. Lalu kita berdua tertawa. Aku ingat, sejak hari itu kita selalu tertawa berdua. bersama-sama. Hari dimana aku pertama kali menyanyikan lagu itu untukmu. Waktu itu kita sudah dekat. Saling bercerita tentang hidup kita masing-masing. Aku menyukaimu. Tapi aku bukan seorang laki-laki yang pandai mengungkapkan apa yang sebenarnya aku rasakan. Meski aku mencoba, sering kali orang tak mengerti kemana maksud dari kata-kataku. Tak jarang malah salah paham. Maka hari itu, aku sengaja menyanyikan lagu ini untukmu. Dan ajaib.. kau langsung mengerti. Lihat.. betapa kau selalu mengerti aku. Maka sejak hari itu, yang tadinya selalu hanya ada 'aku' dan 'kau', sekarang jadi 'kita'.

Sekarang sudah hampir pukul 01.00 siang. Aku mulai beranjak dari tempat dudukku, berganti baju. Hari ini aku akan mengenakan polo shirt putih, biar kita serasi. Kau kan pernah bilang kalau aku kelihatan ganteng mengenakan polo shirt. Bawahan jeans plus sepatu kets. Aku siap.
" ayo kita berangkat!" ajakku. Kau meraih tanganku. Kita berjalan berpegangan tangan menuju jalan raya. Aku mampir sebentar ke toko bunga di sekitar kosanku. Membeli 1 bucket bunga tulip putih, kesukaanmu. Aku menyetop sebuah taksi, lalu menyebutkan nama tempat yang akan kita tuju. Tempat itu cukup jauh. Mungkin kita akan sampai disana pukul 3 sore nanti. Tapi tak apa, perjalanan ini tak akan terasa lama. Karena ada kau bersamaku.

Kita sudah sampai. Kau benar, tempat ini memang damai. Pohon-pohon cemara tertata rapi di sisi jalannya. Ada beberapa pohon besar di beberapa tempat. Banyak burung-burung kecil bertengger disana. Kicauan mereka membuat tempat ini begitu teduh, tenang. Kita berjalan ke tempat itu. Tempatmu merasa damai. Ini dia tempatnya. Aku berjongkok. Kau mengikutiku sambil tersenyum. Lalu aku letakkan bucket bunga tulip putih tadi disana. Di bawah nisan bertuliskan :
Diandra Lestari
11 Mei 1985
13 April 2007

Namamu. Aku memejamkan mata. Mulai berdoa. Hari sudah senja. langit mulai berwarna jingga. sungguh pemandangan yang mempesona. Hari itu juga senja. Hari dimana kau pertama kali ke tempat ini. Meski aku terus berkata, memohon, " jangan pergi..jangan pergi!!!", tapi kau terbaring sambil tersenyum. Seperti mengatakan padaku kalau kau akan pergi ke tempat yang tenang, damai, dimana kau akan merasa bahagia. Hari itu, mobilmu menabrak trotoar ketika kau berusaha menghindar dari tabrakan dengan sebuah motor. Jika kau tak menghindar, motor itulah yang akan jadi korbannya. Kemarahan waktu itu membuatku berpikir, lihat..betapa kebaikanmu malah membawamu pada kematian. Aku takut. Sangat takut. Aku hanya akan memiliki setengah nyawa jika kau pergi. Dan bagaimana aku bisa terus hidup dengan hanya setengah nyawa??? memikirkan itu membuatku tercekat. Dan bulir-bulir air mata itu berjatuhan.
Tapi, sesungguhnya kau tak pernah pergi. Kau selalu ada. Aku tahu itu.
" ayo kita pulang!" ajakku. Kau mengangguk. Kita berjalan pulang sambil tetap berpegangan tangan.
" senja yang indah bukan?!!!" kataku. kau tersenyum. Semakin erat menggenggam tanganku. Kau selalu ada. Aku tahu itu.

Peppermint Tea


"Kedai Teh CAMELIA", itulah nama kedai teh milik ibuku. Mungkin orang akan berfikir bahwa nama ibuku Camelia, atau mungkin namaku yang Camelia, ini biasanya selalu membuat pelanggan kedai teh ini bertanya. Tapi sebenarnya nama itu tak ada hubungannya dengan nama kami. Nama ibuku Kemala, sedangkan namaku sendiri Kinan. Ibuku menamai kedai ini Camelia karena nama latin dari teh adalah Camelia Sinensis. jadi secara harfiah nama kedai ini bisa dibilang kedai Teh Teh, kedai Teh kuadrat, kedai Teh2..intinya hanya kedai Teh, titik. Kenapa harus kedai teh? kenapa harus teh? kenapa tidak kopi? warteg? atau bahkan warung indomie? selain yang tadi disebutkan sudah banyak yang buka, alasan utamanya adalah karena ibuku sangat menyukai teh, dari kecil bahkan, karena orang tua ibuku adalah petani teh. Kalau ditanya kenapa ibu sangat menyukai teh, maka dia akan menjawab dalam kondisi secangkir teh ditangan, meneguknya sedikit demi sedikit, sambil tersenyum dan berkata " kamu tidak akan pernah tahu kalau kamu tidak menyukainya atau bahkan mencobanya ". Kalau sudah begitu, mendingan aku tutup mulut, daripada disuruh minum teh.
Di kedai ini, ibuku menyediakan 6 jenis teh :
- Teh Hijau
- Teh Hitam
- Teh Melati
- Teh Peppermint
- Teh Camomile, dan
- Teh Jahe.
Selain itu, ibuku juga menyediakan beberapa jenis kue buatan sendiri yang semuanya diproses dengan cara dikukus. Terkadang ada pelanggan yang minta disediakan gorengan, tapi ibu bilang, teh itu minuman yang menyehatkan, jadi harus ditemani makanan yang sehat juga. Semua teh yang ada di kedai ini, ibuku sendiri yang meraciknya. Aku sendiri hanya membantu melayani, itupun sepulang kuliah yang waktunya tak tentu. Kedai ini sudah memiliki beberapa pelanggan tetap. Kebanyakan dari mereka biasanya berumur 40 tahun keatas. Kalau aku ingat-ingat, kedai ini tidak pernah kedatangan anak muda, anak kuliahan sepertiku misalnya. Aku rasa mereka seperti aku, tidak suka teh. Kalaupun ada orang seumuranku yang suka minum teh, itupun paling teh pelangsing.
" Ki, ada pelanggan, tolong tanya mau pesan apa ya!" ibuku berkata sambil menepuk bahuku yang sedang serius membaca buku. Aku mengambil note dan pensil sambil memperhatikan pelanggan yang baru datang itu. kalau aku perhatikan sekilas, sepertinya laki-laki ini masih berumur dibawah 30 tahunan. Seseorang yang langka untuk kedai ini. Ini berarti kemajuan, pikirku.
" Maaf, mau pesan apa?"
" teh Peppermint!" jawabnya. Beberapa menit kemudian, aku membawa nampan berisi secangkir teh Peppermint dan setoples kecil gula batu. Hanya secangkir teh, laki-laki ini tidak mau yang lain.
" gulanya dibawa saja! saya tidak mau pakai gula." ucapnya, bahkan sebelum toples gula itu aku simpan di mejanya. Aku mengangguk seraya mempersilahkannya dia menikmati tehnya. karena seperti yang aku bilang tadi, kedatangan laki-laki itu, laki-laki semuda itu, di kedai ini termasuk kejadian langka, dan karena pelanggan lain yang datang hari ini sama seperti hari-hari sebelumnya, hanya mereka yang berumur 40 tahun keatas, maka secara naluriah aku mulai memperhatikannya. melihatnya mulai meminum teh Peppermint itu. seteguk demi seteguk, sambil memejamkan mata. sepertinya dia sangat menikmati setiap tetes cairan bernama teh yang masuk melalui mulut dan mengalir ke tenggorokannya itu. Eksotis. Entahlah.. aku sering melihat pelanggan kedai ini menikmati teh yang disajikan ibuku. Melihat bagaimana mereka meminumnya. Biasa saja. Ada yang sambil ngobrol, ada juga yang sambil ngemil kue buatan ibu. Tapi laki-laki ini berbeda. Dia hanya datang sendiri, dan hanya memesan teh, tanpa gula dan tanpa makanan teman minum teh. Tetapi dia menikmatinya seakan-akan dia berkata bahwa dia tak membutuhkan semua itu. seakan-akan dia sedang merasakan semua kebahagiaan yang bisa dia rasakan. Dia tak perlu apa-apa lagi. Cukup teh Peppermintnya. Sekarang saya mulai berfikir dia aneh. Memangnya teh seenak itu apa? sampai-sampai itu membuatnya seperti lupa pada orang-orang sekitarnya, cuma ada dia dan teh. Orang aneh.

Tanpa disangka-sangka, laki-laki aneh itu datang lagi ke kedai kami keesokan harinya.
" teh Peppermint, tanpa gula!" pesannya. lalu dia berkata lagi, " teh racikan ibumu enak ".
" terima kasih." balasku, sambil terpaksa tersenyum. Aku merasa tersinggung dengan ucapannya. Darimana dia tahu itu racikan ibuku? bisa saja teh itu racikanku, racikan ayahku, kakek-nenekku, atau bahkan pembantuku kan?! Memangnya terlihat jelas ya dari wajahku "tidak bisa meracik teh dan tidak suka teh!" mmh.. aku rasa sebentar lagi aku datang bulan. Aku mengantarkan teh pesanannya seperti kemarin, namun kali ini tanpa toples gula. aku menyodorkan cangkir tehnya dengan muka sedikit judes. Tapi laki-laki ini malah tersenyum. Huffh!!! Dari kejadian beberapa detik itu, aku jadi bisa lebih memperhatikannya. Aku kira-kira, mungkin umurnya antara 25 sampai 27 tahun. Rambutnya rapi, walau aku yakin jika sedikit panjang nanti, rambutnya akan terlihat ikal. kulitnya sawo matang. wajahnya seperti... Banyu Biru, Putranya Eros Djarot. Persis. Ternyata dia.. manis!!! Aku geleng-geleng kepala. Baiklah! Setelah kemarin aku bilang dia eksotis, lalu mengata-ngatai dia aneh, hari ini aku memujinya dengan kata 'manis'??? Tuhan!.

Hari-hari berikutnya, dia terus datang ke kedai kami, dan tetap hanya memesan teh Peppermint. Maka aku mulai menjulukinya mr.Peppermint. Meski aku dan mr.Peppermint ini bertemu hampir setiap hari (dan aku selalu memperhatikannya!), tapi komunikasi antara kami hanya sebatas menanyakan pesanan dan ucapan terima kasih, beres. Aku tak pernah tahu namanya, meskipun sebenarnya ingin sekali aku menanyakan. Tapi aku pikir, tidaklah sopan menanyakan nama pada pelanggan (baca : malu). Hari itu, seperti biasa aku menghampiri mr.Peppermint untuk menanyakan pesanannya, meski aku tahu, dia pasti akan memesan teh Peppermint, hanya itu.
" mau pesan apa?" tanyaku, sambil tersenyum. kali ini tulus. Lalu si mr.Peppermint itu memalingkan wajahnya padaku yang sedang berdiri disampingnya.
" kamu suka teh apa?" tanyanya, tiba-tiba. Hah??? apa nih? apakah kita sedang ada di reality show tukar nasib dimana dalam episode ini kita bertukar peran, kamu pelayannya dan aku pelangganmu? Hmm.. aku tak mau ikutan walau dibayar.
" saya tidak suka teh!" jawabku. Sebenarnya, aku juga pernah meminum teh. Namun menurutku rasanya seperti.. apa ya?.. sepet? dan meninggalkan rasa asam di mulut setelahnya. Itulah kenapa aku tak suka. Lagipula, setiap hari aku bertemu dengan yang namanya teh, aku rasa itu sudah cukup. Tak perlu lah ikut-ikutan meminumnya juga apalagi sampai menyukainya.
" sayang sekali." katanya. Tangannya tiba-tiba mengisyaratkan untuk mempersilahkan aku duduk. Walau sedikit mengerutkan dahi, aku menurut. Dia mulai menghipnotis.
" kamu tahu.." dan dia mulai bercerita, membuatku tak mau beranjak, ingin terus duduk di depannya. Mendengarkannya. Memandanginya.
" teh tanpa gula itu, sama seperti kopi hitam pahit. Jika kamu terus meneguknya, menikmatinya sedikit demi sedikit, meski awalnya akan terasa pahit, namun lama-lama lidah kita akan terbiasa, dan disinilah kenikmatannya. Kamu akan merasa lama-lama teh ini terasa manis, dan kamu ingin terus merasakan sensasi manisnya. Itu sama seperti hidup. Hidup itu pahit. Rasa sakit, kehilangan, itu yang membuatnya pahit. Tapi.. jika kamu tahu cara menikmati dan mensyukurinya, kamu akan menyadari bahwa di balik kepahitan itu, ada rasa manis yang bisa kamu dapatkan. Banyak. Kamu tak akan bisa tahu rasa manis jika kamu belum tau rasa pahit kan? Kamu bisa membedakan rasanya jika kamu sudah merasakan keduanya."
Entahlah.. kata-katanya atau memang dirinya lah yang menghipnotis, sampai membuat aku tanpa sadar mulai mengangguk-angguk.
" saya sudah pernah mencoba berbagai macam jenis teh. Tapi Peppermint tea adalah yang paling saya suka. Saya biasanya membuat sendiri di rumah. Tapi saya rasa, teh buatan ibumu jauh lebih enak." urainya, sambil tersenyum.
" sekarang, apa kamu masih mau menyajikan teh buatan ibumu itu buat saya?"
" hah?". Pertanyaanya menyadarkanku kalau daritadi aku terlalu memperhatikan setiap ucapannya, terlalu asik melihat wajah Banyu Birunya, sampai-sampai aku lupa kalau aku masih harus menyajikan teh Peppermint untuknya.
" eh..maaf, saya segera kembali." jawabki, seraya bangkit dan berjalan menuju dapur.
" saya tunggu!" ucapnya. well..mr.Peppermint, kata-katamu itu bisa mengandung maksud lain (itu sih maunya aku :)).
" terima kasih! untuk ceritanya." ucapku, setelah berhasil memindahkan cangkit teh dari nampan ke mejanya dengan gemetaran. Ini aneh. Sekarang dia mulai membuatku gemetaran. Dia tak berkata apa-apa. Hanya sedikit tertawa sambil mengangguk. Iya.. kamu memang manis mr.Peppermint. Aku buru-buru kembali ke dapur, takut melakukan hal yang lebih bodoh jika terus melihatnya. Aku terus mengingat ucapan mr.Peppermint tadi soal teh. Kata-katanya membuat aku tertarik.
" ibu, aku mau minum teh!" pintaku, tiba-tiba. Herannya, ibuku hanya tersenyum, tanpa bertanya kenapa.
" mau teh apa, Ki?"
" teh Peppermint!" jawabku, mantap. Ibu langsung meracik secangkir teh Peppermint sambil menjelaskan kalau teh Peppermint itu termasuk teh herbal. Artinya teh yang dibuat antara campuran daun teh dengan dedaunan yang lain. Teh Peppermint dibuat dari campuran teh hitam dengan Peppermint oil. Sekarang aku tahu itu. Hmm.. aku mulai meneguk teh ini sedikit demi sedikit. teh tanpa gula. rasanya.. ada sensasi dingin, tapi membuat aku nyaman, tenang. Besok kalau mr.Peppermint datang, aku akan bilang padanya kalau aku sudah mencoba teh Peppermint kesukaannnya.

Tapi, hari ini mr.Peppermint itu tidak datang. Hmm..mungkin besok dia akan datang. Baiklah, hari ini aku akan mencoba teh buatan ibu yang lain. Ibu membuatkan semuanya dengan senang hati, sambil menjelaskan manfaat dari setiap teh. Aku tidak pernah tahu kalau ibu begitu banyak tahu tentang teh. Dan ternyata dia ingin kepandaiannya meracik teh yang turun-temurun itu, bisa diturunkannya padaku. Selama ini kau tak pernah memperhatikannya. Mungkin karena selama ini aku tidak menyukai teh. Nanti kalau mr.Peppermint datang, aku jadi punya banyak bahan pembicaraan. Aku juga akan bilang padanya, kalau sekarang aku sudah mencoba semua teh yang ada di kedai ini, tapi yang paling aku suka adalah teh Peppermint, sama seperti dia. Iya..aku akan bilang itu padanya. Sampai akhirnya mungkin aku punya kesempatan untuk menanyakan namanya.

Tapi..mr.Peppermint tak pernah datang lagi. Tidak hari ini, besok, ataupun besoknya lagi. Aku tak pernah punya kesempatan untuk menceritakan semuanya. Tak punya kesempatan untuk tahu namanya. Aku tak bisa lagi melihat caranya meminum teh yang eksotis. Tak bisa lagi melihat senyumnya yang manis. tak bisa lagi memperhatikan wajah Banyu Birunya yang menghipnotis. Dan menyadari ini semua membuatku merasa sakit di ulu hati. Mungkin selamanya aku hanya akan mengenalnya sebagai mr.Peppermint. Seharusnya aku bisa menyucapkan terima kasih, setidaknya. Karena cara dia menikmati teh, pandangan dia tentang teh, dan keberadaannya, telah merubah pandanganku. Hidupku. Aku pernah mendengar, kalau ada orang yang bisa merubah hidup orang lain hanya dengan keberadaannya. Dan kalau ada orang yang bertanya, adakah orang itu dalam hidupku, aku akan menjawab, ada! Dan itu kamu, mr.Peppermint.

Minggu, 07 Juni 2009

pelarian gunung pelarian: cepen atau monolog?


Tanpa pedulikan kondisi pintu yang sudah rusak dan masih dalam kondisi terkunci, ku dobrak sekuat tenaga dengan bantuan amarah yang tak terbendung menenggelaman diri dalam nafsu yang hampir tak terkendali, pintu terbuka dengan terpaksa hingga kunci gembok pun rampung dibuatku, ku bantingkan kembaIi pintu, namun tak menutup penuh kamar dengan rapat. Beberapa pigura berhiaskan foto-foto perempuan itu ku raih dengan cepat lalu kubantingkan dari genggaman tangan dan membentur ke penjuru tembok kamar memecahkan sunyi menjadi kegaduhan yang membringas, seisi kamar kaget melihat raut wajahku yang setengah berlapiskan iblis yang murka, apalagi cermin tu telah berhasil ku pecahkan dan sisa-sisa pecahannya bersebaran dilantai. Dapat dipastika hampir seluruh isi kamar berhasil kujamah hingga berantakan, kecuali satu buku yang kadang kuanggap kitab itu yang masih tersimpan rapih tanpa lerusik sedikitpun oleh amarahku. .

Segera. Kutengok kiri dan kanan tepatnya kearah pojok lain dari penjuru kamar sambil berharap menemukan beberapa peralatan naik gunung. Tepat, seperangkat peralatan itu masih ada meskipun letaknya berhamburan. Tanpa berfikir panjang seluruh keperluan naik gunung itu ku kemasi dan kumasukkan kedalam tas besar bermerek - yang terkenal dikalangan para pencinta alam. selebihnya tidak, hanya beberapa gengam beras dan beberapa bungkus mie yang mampu kumasukkan sebagai perbekalan naik gunung untuk melarikan kekesalan yang lebih tepatnya disebut kemarahan ini dibekali, tapi dalam kondisi apapun rokok tak pernah ketinggalan dalam deftar perjalananku apalagi naik gunung. Tanpa sedikit pun kekhawatilan tersirat dibenaku, kutinggalkan kamar beserta isinya tanpa kunci mengamankan pintu kamar yang bahkan masih sedikit terbuka, kulangkahkan kaki langkah demi langkah, tentu saja masih dalam balutan amarah dan kegalauan yang menyelimuti hati dan pikiranku iringi perjalanan ini karena memang amarah dan nafsu inilah yang menjadi sumber utama yang mengantarkanku untuk pergi merangkul Gunung Malabar yang menjulang tinggi besar itu

bagaimana tidak!... hati ini seperti serpihan bangunan yang nyaris menjadi debu yang dulu pernah kucita-citakan kokoh bersama dia, wanita yang slalu kubanggakan sebagai kekasihku. dia berkhianat! bahkan baru saja menjalankan aksi pembunuhan yang sebenarnya telah ia rencanakan jauh-jauh hari.

aku tidak tahu pasti apakah memang hari ini peristiwa peristiwa itu harus terjadi atau terlalu cepat karena diluar rencanannya. beberapa jam kebelakang adalah waktu yang kuanggap sangat tepat untuk berkunjung ke tempat kosnya di daerah Jalan Setia Budi, tapi memang hari ini bukan hari biasa aku berkunjung, karena biasannya hari kamis ada;ah hari terpadat bagiku dalam menjalani perkuliahan di kampusku yang terletak di jalan Dipati Ukur, tetapi entah mengapa hari ini secara kebetulan semua dosen dikabarkan tidak akan masuk untuk memberikan kuliah, sehingga aku putuskan untuk pergi ketempat kosnya.

sengaja, waktu itu aku tidak mengabarinya terllebih dahulu perihal kunjungannku ke tempat kosnya, bail ;ewat telepon atau bahkan hanya mengirim sms pun tidak aku lakukan, dengan harapan memberikan kejutan aku berangkat dan membayangkan mendapat kebahagiaan disana. adzan ashar lewat ditelinga, aku tak peduli, kulanjutkan cita-citaku menemuinnya.

sesampainya disana, dasar sembrono! pintu kamar kosnya tidak terkunci, ku gelengkan kepala dan menerobos masuk lebih dalam.. lalu...
bangsat!!!! aaahhhkkhhhh!!!!
aku tak mau mengingat kejadian itu lagi, saat-saat dimaana kuanggap pembunuhan itu tengah berlangsung. tapi aku tidak bisa membohongi hati dan pikiranku sendiri, bahkan perjalanan ini adalah bukti bahwa peristiwa itu begitu melekat dalam benak, hati dan pikiran sehingga menghancurkan hati ku. Ya! tiap langkah perjalanan menuju pendakian gunung ini seolah-olah lembaran dari rentetan perjalanan kisah ku dengan perempuan itu, dari perjuanganku yang tak mudah untuk mendapatkan hatinya sampai peristiwa tadi sore itu terjadi, langkah-langkah ini menggambarkan dengan rinci sederet peristiwa dalam pikiranku.
meskipun dalam kondisi berjalan, pikiranku menerawang jauh mengenang adegan mesra peermpuan setan dengan laki-laki jahanam itu, betapa nikmatnnya! mereka saling bercumbu!... oooohhhhh begitu jelas sekali kulihat lelaki itu melayangkan tangannya menjelajahi beberapa bagian tubuh...
dan ...
akhh,, aku dikejutkan oleh seorang petani yang hendak menanam benih di sepetak perkebunan, aku kaget karena perkakas berkebun patani itu tak sengaja tersenggol kaki ku saat berjalan, sejenak peristiwa pengkhianatan itu terlupakan, dan tersadar bahwa saat ini aku tengah berjalan dan berada diperkampungan kaki Gunung malabar, pandangan mata ku tertuju pada kemegahan puncak gunung yang bemberikan nuansa alam begitu indah - memberikan sedikit ketenangan pada jiwa, apalagi senja ini tiba diantarkan mentari yang tenggelam melewati awan merah menyimpan pesan dan membawa kabar untuk esok.

di depan, jalan terjal sudah menanti, terlihat beberapa rumah berderet diantara tebing dan sungai yang dialiri air dari gunung, tepat diatas tempat tinggal prnduduk itu, gerak-geril dari mesin pengeruk tanah dan beberapa truk pembawa pasir merah masih melakukan aktifitasnya, padahal hari sudah hamper gelap, begitupun dengan aku yang tidak berhenti melakukan perjalanan untuk mencapai puncak gunung tinggi itu.

kulanjutkan perjalanan... setelah melewati beberapa tanjakan yang terjal, kini hutan hampir selesai kulewati, sambil beristieahat sejenak kurapihkan ransel yang melekat di punggungku, tiba-tiba kudengar langkah kaki yang kedengarannya seperti orang berjalan agak terburu-buru, sepertinya dari atas tempatku beristirahat, aku terperanjat kaget. rupannya wanita setengah baya yang berjalan terburu-buru itu, dipunggungnya terlihat ikatan kain membalut kayu-kayu kering yang jumlahnya cukup banyak, berat ransel yang ku baawa sepertinynya tidak ada apa-apannya dibanding kayu-kayu yang ia bawa, ditengah ketersimaan, aku bertanya, sebuah pertannyaan yang mungkin sebetulnnya aku tahu jawabanya.
"dari mana Bu?, kenapa Ibu terburu-buru?
benar-benar telah kulupakan peristiwa itu.
"habis memungut kayu kering untuk bahan bakar didapur, sebentar lagi sepertinya akan turun hujan Den (panggilnya padaku), selain itu sudah gelap, makanya ibu terburu-buru".
dengak khasnnya wanita setengah baya itu menjawab sangat rengkuh seperti kebanyakan orang-orang desa lainnya. tepat sekali perkiraan ku. kecuali jawabannya tentang akan turun hujan benar-benar di luar dugaanku.
“Aden naik gunung sendiri? aduh lebih baik besok saja dilanjutkannya, hari sudah gelap".
(ibu itu meneruskan)
"Ga masalah kok bu, besok juga saya pasti kembali, saya hanya akan tinggal semalam saja". mungkin karena hari sudah gelap, perempuan itu tidak begitu ngotot mencegahku.
"ya sudah kalau begitu.. ibu pulang duluan, hati-hati, mudah-mudahan Aden baik-baik saja dan pulang dengan selamat" Ibu itu pun berlalu setelah pamit dan mendoakanku.

benar apa yang dikatakan ibu itu, tak lama kemudian setelah beberapa saat, angin yang tadinya behembus dengan kencang bergemuruh menerpa dedaunan perlahan mulai hilang dugantikan kesunyian. mula-mula kabut tipis turun. lalu, tak lama setelah itu kabut pekat pun menyusul menutupi jarak pandang merangkul seisi hutan dengan gejalannya yang khas yaitu butiran air lembut yang menempel di dedaunan. kunyalakan sebatang rokok berharap menemani kesendirian ku di tengah kesunyian hutan ini, memang baiknya segera aku melanjutkan perjalanan ini, tetapi rokok ditanganku masih cukup untuk menghabiskan waktu beberapa saat lagi, karena memang baru beberapa tarikan saja ku isap rokok ini. beberapa saat kemudian, terdengar gemuruh tapi bukan suara yang dihasilkan angin yang menerpa dedaunan,.

Gila!!! ternyata hujan turun dengan deras, kokok di tangan ku masih tersisa, mekipun tinggal satu tarikan terakhir, ku hisap dalam-dalam lalu kumatikan dan kemudian bergegas meneruskan perjalanan hujan dengan derasnya menghadang seolah-olah menhalang-halangi perjalananku. tidak hanya itu, kali ini hujan bersekongkol dengan gemuruh halilintar, tapi hujan dan halilintar tak berhasil menakut-nakutiku.

kilat halilintar memeranjatkan ku kembali, kali ini leih besar dan leih kencang dri sebelumnya! cahayannya lebih menyilaukan! gemuruhnya lebih menggelegar! aku tak bergeming! langkah kaki ini tetap ku paksakan, mekipun lelah sedikit-demi sedikit mengerogoti tubuhku. tapi hujan dan halilintar rupannya sama-sama lelah. perlahan mereka menghilang, digantikan hembusan angin yang menusuk tulang sum-sum, jalan menjadi sangat licin sekali, tak jarang aku terjatuh lemas tak berdaya. puncak gunung ini masih enggan menampakkan akhir dari jalan yang terjal, aku hampir menyerah dan sepertinnya benar-benar menyerah. aku terjatuh, ransel dipunggungku menambah berat tubuhku yang terjatuh.
sekujur badanku basah kuyup tetapi semangatku kembali terpacu, gerak demi gerak kulakukan, aku bangun untuk mendirikan kembali tubuh dan berjalan, satu langkah kaki berhasil ku gerakan, aku sangat ingin menyelesaikan perjalanan menuju puncak gunung ini, tapi rasannya ini adalah tiga langkah terakhir, ya... hanya tinggal beberapa tarikan nafas lagi, akhhhh... (aku terjatuh kembali) ditengah-tengah perjuangan perjalananku yang hampir tak terselesaikan terhadang lelah, aku melihat bunga edelwise, bunga abadi itu sedikit demi sedikit menampakan kuncup putihnnya yang indah, aku tarik nafasku kembali, kulangkahkan kakiku dengan harapan menggapai bungan dan puncak gunung ini, tapi... sepertinya aku tudak akan mampu, otot-ototku mengeliat kelelahan... aakkhhh.. ini usaha terakhirku mengeluarkan tenaga sekuat-kuatnnya, dan... aku terjatuh dan teringat peristiwa itu kembali, namun aneh, entah kenapa, kali ini justru yang ku ingat bukan peistiwa pengkhisnatan itu, justru persistiwa satu bulan kebelakang, saat detik-detik aku mendapatkan jawaban dan kepastian dia menjadi kekasihku..
detik-detik dimaana, aku duduk diantara meja dengan dua kursi yang saling berhadapan. dengan sangat hati-hati ku utarakan perasaan saat ini yang alalu aku simpan baik-baik dalam hati.. dengan harapan mendapat jawaban yang sesuai dengan harpan aku utarakan bahwa
"aku suka dan sayang kamu, aku cinta kamu, maukah kau jadi kekasihku?"
rasanya seperti gunung berapi menghempaskan larpa, bebeanku tumpah, hatiku tenang sejenak lalu aku dihadapkan pada kondisi hening, sepertinya dia mau menjawab, dengan gelisah bercampur rasa penasaran aku menunggu,
.. bibirnya membuka perlahan dan...
akhhhh,,, aku kembali tersadar bahwa saat ini tengah berada di puncak gunung dan sedang terjatuh, aku kembali tersadar diaman dan sedang apa aku sekarang, segera aku bangkit dari jatuh dan menyelesaikan langkah terakhirku, akhirnya puncak gunung ini telah aku gapai, ku rebahkan badanku dengan memandang langit, rupanya hembusan angin telah menyingkirkan kabut dan awan yang meyelimuti langit malam ini, bulan setengah penuh menemaniku kini, begitu pun bintang-bintang. saat ini aku duduk dan merenung, kembali aku teringat saat-saat dimana aku sedang berhadapan dengannya aku ingat saat-saat itu ia membuka bibirnya sedikit demi sedikit seraya menganggukan kepala, ia mengatakan satu kata yang teramat penting dan bermakna bahwa dia dia resmi menjadi kekasihku "ya" jawabnnya singkat, dengan iringan senyum di wajahnya.
saat itu, aku sangat senang dan bahagia, seperti menyelesaikan perjalanan pendakian gunung ini rasanya. sekilas memang sederhana dan tidak begitu menarik, tetapi jawaban itu adalah jawaban dari pertannyaanku yang ketiga kalinnya, setelah sebelumnya dua kali dia hanya bungkam yang berarti raga menerimaku. aku tersenyum sendiri mengingatnya. saat itu pula bangnan yang ku maksud mulai tercipta untuk dicita-citakan beramanya, kini aku hanya berharap peristiwa pengkhianatannya adalah suatu penangguhan akan sebuah kebenaran yang tertunda.
yaa????
mana bunga (edelwaise) abadi tadi, bunga yang membuatku bangkit dari jatuh, bunga yang membuatku semgat kembali untuk menarik nafas dan melangkahkan kembali kaki untuk enyelesaikan pendakian ini? ternyata bunga itu bersembunyi di nelakang tubuhku, kubakikan badan dan mendekatinnya, meyentuhnya lalu mencumbunya, terasa dingin di bibir, hujan yang membasahinya telah menyisakan air yang kini melekat dibibirku. hendak kuraih untuk dipetik, tapi kuurungkan niatku, kulepaskan gengaman tanganku, mataku melihat kebidang sejajar yang lain, ohhh Tuhan!!! lampu-lampu di kota besar terlihat jelas, teramat sangat indah. kembali kurebahkan badan ini menegadah menghadap rembulan kurenungkan bahwa: badai pernah kutembus, kegelapan malam berkali-kali kulalui, semua itu terjadi ditengah-tengah lebatnya rimba alam ini dan tak pernah membuatku mengurungkan niat untuk menggapai puncak gunung. bahkan di bawah sana! pistol pernah ditodingkan tepat kearah jidatku, golok dan cerulit diletakan diantara dagu dan dadaku, semua itu tidak pernah meribah pendirianku untuk menggapai jawaban atas segala kegelisahan.

aku kembali terjaga, teringat kembali penyebab, kenapa saat ini aku berada disini, adilain waktu: badai, kegelapan malam, pistol, golok dan cerulit bukanlah sesuatu hal yang berarti, tapi orang-orang seperti aku ini selalu menempatkan perempuan dan sebatang lebih berpengaruh dari semua penjajahan didunia. Ibu yang hampir tua yang berpapasan dihutan tadi, pergi menelusuri hutan hanya untuk mendapatkan seikat kayu keing untuk menyalakan perapian di dapur agar seisi rumah dapat menikmati makanan yang dimasaknya, sementara aku pergi kepuncak gunung nan sunyi ini dengan pelbagai kebanggaan yang kebanyakan justru melahirkan keponggahan, luasnnya hutan, tingginya gunung hanya menjadi bekal cerita bahwa "aku pernah menginjakan kaki di gunung intu!"

ibu pemungut kayu kering itu menelusuri hutan dan menapaki gunung dengan tujuan menyambung hidup diri dan keluarga, sementara aku hanya untuk melarikan diri, lari dari masalah, bahkan hanya karena dikhianati perempuan. mencari jawaban atas kegelisahan macam apa yang kucari ini? dipuncak gunung ini aku tidak menemukan bidadari yang turun dari langit yang menggantikan perempuan penkhianat yang hampir kulupakan itu. saat ini, malam ini, dipuncak gunung ini aku hanya meliha betapa kecilnya manusia didunia ini, kota-kota besar tempat kesibukan manusia dengan segala kemewahan dan gemerlap keindahan dunia dibawah sana terlihat tak lebih hanyalah sekumpulan dari kedipan cahaya-cahaya kecil yang mungkin, seandainnya Tuhan berkehendak teramat mudah sekali menghancurkannya.

perlahan rembulan merayap kearah barat, bintang-bintang mengikuti. malam ini telah kulalui, hari berganti, rembulan digantikan mentari membawa pesan untuk segera turun gunung. bintang-bintang menghilang, langit biru menjelang. kusiapkan diri untuk pulang membawa jawaban dari pencarian.
langkah demi langkah kuayunkan menuruni punggungan dan lembahan gunung yang curam, perjalanan pulang terasa lebih cepat dari pendakian. tak terasa perjalanan pulang hampir kutuntaskan, hutan sudah kulewati. kini aku berada diperkampungan kaki gunung malabar, "ya tuhan" (dalam hati ku bertanya). kenapa banyak pohon-pohon yang tumbang, kuteruskan berjalan, lebih bergegas, kudekati perkampungan yang berderet ditepi jurang dekat sungai itu.
Ya Tuhan!!
apa yang telah terjadi? apa yang menimpa erkampungan ini? rumah yang berjajar itu raib tertimbun gunukan tanah merah bercampur pohon-pohin besar tak berdaun, tak terkecuali mesin pengeruk beserta beberapa truk dilahap tanah loingsor itu, beberapa orang sedang sibuk menggali tanah yang menimbuni rumah. kulihat raut muka mereka gelisah bercampur sedih. rupanya longor telah menelan rumah-rumah penduduk. galian pasir dan penemabgan pohon menjadi penyebab utama terjadinya longsor setelah tadi malam hujan lebat itu mengguyur gunung dan perkampungan. kutanggalkan ransel dari punggungku, kuraih cangkul yang tergeletak di tanah untuk kugunakan sebagai penggali timbunan tanah itu. salah seorang dari penduduk berkata:
"beberapa korban telah terangkat, tinggal seorang ibu beranak dua yang masih tertimbun!!"
tiba-tiba, aku teringat ibu pemungut kayu bakar yang bertemu denganku di hutan kamarin, kupnalingkan pandanganku kepenjuru lain tumpukan tanah. terlihat dua orang anak kecil berdiri dengan kepala tertunduk sambil menangis, didepan mereka terbaring seorang jenazah perempuan yang baru saja ditemukan oleh salah seorang penduduk lain yang juga melakukan pencarian. perempuan itu adalah ibu dari kedua bocah yang menangisi jenazah tersebut, kedua bocah itu tidak menjadi korban, karena sewaktu longsor itu terjadi mereka masih berada di madrasah untuk mengikuti sekolah agama yang biasa dilakukan sehabis solat subuh. mungkinkah yang merela tangisi itu jenazah ibu pencari kayu bakar yang bertemu dengan ku di hutan? (dalam hati kubertanya).

hatiku kembali terkoyak, aku tidak mampu berbuat apa-apa, jawaban macam apa yang telah kudapat dari pendakian gunung ini yang mampu mengatasi persoalan-persoalan yang nyata-nyata terjadi di sini. kematian memang sebuah keniscayaan, tpi dengan cara bagaimana dan melalui apa kematian itu datang selalu menjadi perhanyaan dalam hati ini. terutama yang menimpa warga kampung yang terkena longor ini. adilkah membiarkan orang-orang desa selalu menjadi korban keserakahan pada pemegang hak penggali pasir yang tepat dilakukan diatas rumah mereka?? bencana memang telah terjadi, tapi aku hidup didunia nyata yang selalu mencari sebab akibat, kenapa bencana ini terjadi?

aku benar-benar tidak mampu mengingat kembali perselingkungan kekasihku dengan laki-laki yang berhasil menidurinya kemarin, yang kurenungkan saat ini bahwa ternyata hidup ini gunung yang didaki, kutelusuri terjalnya melalui langkah-langkah menapaki punggungan menerawang dimensi ruang dan waktu, aku menemukan sedikit arti dari sebuah penemuan disaat aku duduk terdiam dipuncak dan begitu selanjutnya. kuturuni kembali punggungan untuk menhadapi kemunafikan dan penkhianatan di lembah sana, ternyata bukan!! yang kuhadapi adalah realiatas kehidupan bahwa banyak manusia yang membutuhkan perjuangan melawan tirani ketidakadilan.

Jumat, 13 Februari 2009

Bagaimana Bila Kau Menjadi Aku Disini?

Holy Rapika

Aku menghampirinya, menghampiri wajahnya yang seperti terbelenggu senja. Dia lelah, namun campur marah. Ia membisu saat aku datang di muka pintu. Kalaupun ada yang bicara, mungkin hanya dua bola matanya. Keduanya seperti ingin berkata; aku sedang marah pada dunia, harap kau tahu dirimu adalah bagian dari dunia itu, jadi aku juga marah padamu!

Aku sebentar mematung, lalu bicara; ada apa? Dia terus membersihkan kamarnya yang sore itu berantakan. Tak juga keluar dari mulutnya satu kata, hingga di antara kami hanya tersisa kosong suara. 

Sial, dalam hati kubilang. Mengapa aku harus ada disini? menyapamu? melayani kemarahanmu? menjadi bagian dari duniamu yang hendak kau robek-robek itu? Sialnya juga, hatiku meneruskan, masak aku langsung pergi, tanpa tanya itu atau ini?. 

"Oh ya sudah, aku per...". "Dia berkhianat!" kalimat itu menghela kalimatku. Dia berhenti membereskan kamarnya lalu menatapku dengan tatap mata yang enggan punya harapan. "Dia berkhianat padaku" kali ini lebih lirih. 

"Ooh..." gua mulutku segera saja mengucap itu. Aku duduk lalu menghela nafas panjang, sebuah tanda persiapan. Dan benar saja, sekejap kemudian senja kami adalah cerita panjang pengkhianatan. Jika aku boleh memakai kata lain, dia bercerita tentang cinta, seperti senja 3 hari yang lalu, 2 minggu yang lalu, dan berkali-kali di bulan yang lalu. Cinta yang selalu sama; berulang-ulang dihempaskan Jamilah, nama pengkhianat cintanya. 

Aku temannya, dan sebagai temannya, aku tak punya kalimat lain untuk menggambarkan kecuali itu bahwa senja miliknya adalah senja yang muram karena pengkhiatan.

"Sepertinya, aku sudah lelah. Cukuplah aku berharap pada Jamilah. Menurutmu bagaimana?" katanya kemudian setelah ceritanya yang panjang. Aku menepuk bahunya, menghela nafas lagi, lalu berbisik "Ya sudahlah, lupakan saja Jamilah. Dia tak ada harganya untukmu. Sudah berapa kali dia berkhianat padamu? Dan sudah berulang kali kubilang padamu, pengkhianatan, meski itu sekali, bagiku tak bisa dimaafkan". 

"Ya..ya.. sudah saatnya memang", dia mengangguk-angguk seperti di senja 3 hari yang lalu, 2 minggu yang lalu, dan berkali-kali di bulan yang lalu. Dia menghela napas, memijit-mijit dahinya lalu keluar kamar sambil memencet nomor di handphonenya. Sayup-sayup aku mendengar dia sedang berbicara dengan seseorang di jauh sana; Jamilah-nya. 

Beberapa saat kemudian dia masuk kamar lagi. Menatapku dalam-dalam, lalu bilang "Sudah. Selesai sudah, ceritaku dengan Jamilah. Terima kasih, kau turut menguatkanku memutuskan ini". Ia menepuk-nepuk bahuku. Aku berusaha melihat wajahnya dalam-dalam. "Oh santai sajalah.." balasku singkat. Setelah memberi beberapa nasihat aku pamit dan keluar dari kamar itu. 

Beberapa langkah handphoneku bergetar. Sebuah pesan singkat masuk, dari Jamilah :
"Kita harus bertemu esok, di tempat biasa. Dia akhirnya memutuskanku tadi. Jangan pernah bilang kau mengkhianati dia. Aku dan kamu bukan dia yang mempertemukan, tapi Tuhan.Sekarang kita tidak akan banyak berkata sialan. senja kita, sayang, adalah senja setia".

Aku masukkan lagi handphone ke saku celanaku. Bibirku tersenyum menang, entah untuk pengkhianatan atau kesetiaan...